011.
Your Heart Is Kind. And My Heart Is Truly In Your Hands. From The First Words We Say Together. I Will Love You Forever.
—Miranda J. Gee
Sejak matahari merangkak turun dan semburat jingga mulai terbenam meninggalkan sejuta keheningan yang akan tergantikan oleh cahaya rembulan, menandakan sore telah berganti malam. Udara yang semakin mencekik hingga ke tulang. Meskipun begitu, suasana yang dingin itu tidak membuat kedua insan itu pun menjadi dingin. Yang ada justru kehangatan yang dirasakan.
Jenar dan Kinan, dua jiwa yang telah dipasangkan oleh semesta. Kedua insan itu mengacuhkan hawa dingin yang menelusup ke kulit mereka malalui celah-celah jahitan benang di pakaian mereka. Jenar membawa motornya, memutari kota sembari menatap gemerlap lampu yang nampak indah. Di belakangnya, ada Kinan yang terus bercerita sembari memeluknya erat.
Ini bukan malam minggu, tapi entah kenapa malam ini seperti lebih padat daripada malam-malam sebelumnya. Terlihat bagaimana barisan kendaraan berjejeran rapi menunggu lampu lalu lintas menghijau.
“Sayang, kamu nggak kedinginan?” tanya Jenar sambil menoleh ke samping. Kinan menggeleng sebagai jawaban.
Helaan napas terdengar. Jenar tahu kalau Kinan berbohong karena tangan perempuan yang kini melingkar di pinggangnya terasa dingin saat ia sentuh.
“Kamu kedinginan. Harusnya tadi aku pakai mobil aja biar kamu nggak kedinginan gini.” kata Jenar seraya mengelus-elus tangan Kinan.
“Nggak usah alay. Lagian kalau nggak naik motor mana bisa kita pelukan begini?”
“Cuddle di apartemen aku kan bisa.”
Kinan mencubit pelan perut pacarnya hingga mengaduh kesakitan.
Menunggu lampu yang tak kunjung berubah warna membuat Jenar sedikit bosan. Jenar memposisikan kaca spionnya ke belakang, agar bisa puas memandang wajah teduh Kinan. Kemudian tangan kirinya beralih ke atas paha Kinan dan mengelus-elusnya pelan.
“Geli tau.” rengut Kinan sebal yang hanya mendapat kekehan dari Jenar.
Sebelum lampu menghijau, Jenar bertanya pada Kinan. “Kamu nggak mau mampir dulu beli apa-apa gitu?”
Kinan menggeleng, “Udah kenyang.”
Mendengar itu, langsung saja Jenar melajukan motornya saat lampu lalu lintas sudah berubah warna. Dalam perjalanan, mereka masih berbicara—entah membicarakan apa, yang jelas random.
Jenar membawa motornya melaju, membelah jalanan yang tampak belum surut oleh kendaraan. Dengan kecepatan rata-rata, motor itu mengaum entah ke mana. Mereka hanya jalan-jalan tak tentu arah, menghabiskan bensin dalam percakapan ringan keduanya.
Semakin malam udara semakin dingin. Jenar sih tidak masalah karena dia pakai hoodie yang lumayan tebal, sedangkan Kinan hanya pakai baju crop lengan panjang.
“Nanti kita jatuh!” teriak Kinan ketika tangan kiri Jenar mencoba meraih punggungnya.
“Aku nggak mau badan kamu kelihatan banyak orang.”
Kinan mendengus, “Aku pakai dalaman tanktop. Nggak mungkin kelihatan!” Kinan berusaha menyingkirkan tangan Jenar. “Sana, nyetir yang bener!”
Laki-laki itu mengalah dan kembali menyetir dengan benar. Tapi tidak lama. Karena setelah itu dia beralih meraih satu telapak tangan kiri Kinan untuk dibawa ke atas pahanya, digenggamnya kuat.
“Aku pelan-pelan, oke? Jangan teriak-teriak lagi. Nanti dikira aku nyulik kamu lagi.” kata Jenar cepat sebelum Kinan kembali berteriak karena Jenar melepas satu tangannya.
Kinan mendengus kecil, “Tapi hati-hati.”
Selama perjalanan, Jenar memelankan laju motornya karena tangan kirinya terus menggenggam telapak tangan Kinan. Menciumnya beberapa kali. Jenar suka wanginya. Membuat hatinya menghangat disaat dingin kian menyelimuti. Tak lama, Jenar membawa tangan itu masuk ke dalam saku depan hoodie-nya. Mengenggamnya di dalam untuk menyalurkan kehangatan di sana. Kinan merasakan kehangatan itu saat tangan Jenar mengenggam tangannya.
Sambil mengembangkan senyumnya ketika debaran jantungnya kian membuncah, begitupun dengan debaran jantung Kinan, Jenar menggumam lirih suatu kalimat yang masih dapat didengar oleh Kinan.
“I love you.”