047.

Sempat memperdebatkan ke mana tujuan pertama—yaitu apartemen Jenar atau supermarket— finalnya ke apartemen Jenar terlebih dahulu. Lelaki berperawakan seindah bunga bermekaran itu terus memaksa agar tempat yang dituju pertama kali adalah apartemennya setelah ia menjemput Kinan di rumah Sofia. Ini gara-gara Jenar yang sudah pulang dari kantor dan berganti baju tapi lupa membawa dompetnya. Kinan dengan jengkelnya pun menyerah, mengiyakan ajakan Jenar untuk mampir ke apartemen terlebih dahulu, mengambil dompetnya yang tertinggal.

“Nggak usah manyun, lagian aku cuma ambil dompet, nggak lama.”

Kinan mendengus, “Udah aku bilang pakai uangku aja dulu. Sekalian aku mau belanja make-up.”

Bukan Jenar namanya kalau tidak mau mengalah dengan siapapun termasuk dengan pacarnya. “Nggak. Nanti make-up aku yang belikan juga.” ucapnya final. “Kamu tunggu di mobil aja ya, cantik.” dan setelah itu Jenar menghilang dari pandangan Kinan.

Menunggu hampir sepuluh menit, barulah Jenar muncul menampakkan batang hidungnya beserta cengiran khasnya.

Suasana mobil kembali hangat dengan adanya suara gumanan Jenar yang berkaraoke menyanyikan lagu Cigarattes After Sex, sedangkan Kinan sesekali tertawa pelan melihat tingkah kekasihnya yang kocak itu.

Perjalanan mereka ke supermarket diisi dengan tawa yang riang.


Mereka sampai di supermarket. Jenar dengan membawa trolly-nya berjalan di samping Kinan.

“Kamu lebay banget deh, padahal kita cuma belanja buat bekel kamu besok tapi kayak belanja bulanan aja.” omelan Kinan berhasil membuat Jenar menyengir.

“Biar sekalian sama makan malam juga.” balas Jenar mengikuti ke mana pun langkah Kinan di depannya.

Kinan berjalan mengelilingi bagian sayur-mayur. Mengambil sayuran segar yang sekiranya Jenar suka. Menjadi pacar Jenar selama tiga tahun lebih membuat Kinan tahu selera makan Jenar. Kinan mengambil beberapa macam sayuran, daging ayam, dan danging sapi segar.

“Sayang, kamu mau es krim nggak?”

Kinan yang tadinya sibuk memilah roti tawar gandum pun menoleh, menghadap Jenar. Kini mereka berada di bagian cemilan.

“Mau. Vanila sama cokelat, ya.” jawab Kinan yang hanya dibalas oleh jari jempol dari Jenar.

Setelah semuanya beres, Jenar membawa trolly itu ke kasir. Di sana, ada beberapa mbak-mbak di bagian kasir menatap Jenar genit dengan terang-terangan sekalipun Kinan berada di belakangnya dengan kepala menyembul dan memegangi lengan Jenar dari belakang.

“Belanja bulanan, Mas?” basa-basi salah satu kasir perempuan di sana dengan senyuman manis ke Jenar.

“Iya.” Jenar menjawab dengan tersenyum.

“Saya baru pertama kali lihat Mas-nya belanja di sini, pindahan ya, Mas?”

Jenar yang sedikit risih pun hanya tersenyum paksa dan mengangguk. Lalu ia sengaja menarik Kinan agar lebih mendekat ke arahnya.

“Sayang, udah kan? Dedeknya cuma pengen es krim doang kan?” tanya Jenar iseng sambil mengelus-elus perut Kinan yang nampak rata.

Sontak pertanyaan dari Jenar pun membuat mbak-mbak kasir itu melotot saking terkejutnya. Lalu dengan senyuman canggung dia menyampaikan harga dari belanjaan Jenar yang perlu dibayarkan.

Kinan yang mendengar itu mencubit pinggang Jenar pelan. Sedangkan Jenar hanya tertawa pelan.

“Genit banget sih mereka. Udah tau aku sama kamu tapi masih aja digodain.” gerutu Jenar begitu mereka berjalan menjauh dari kasir tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Kinan.