098.

Udara malam seakan memeluknya erat, setelah mengeratkan outer yang melekat di tubuh rampingnya—melapisi kemeja tipis yang ia pakai— akhirnya Kinan bisa bernapas lega saat kakinya sampai di depan pintu apartemen Jenar. Sudah tiga harian ini Kinan menempati apartemen kekasihnya karena pria itu terus saja memaksanya agar tinggal bersama.

Suasana apartemen yang gelap dan sepi, tidak seperti ketika ada Jenar di dalamnya. Kinan menghela napas sembari menelusuri ke dalamnya. Tangannya meraba dinding agar dapat meraih saklar lampu. Belum sempat ia menyalakan lampu, lampu di seluruh ruangan pun menyala karena seseorang menyalakannya terlebih dahulu.

Kinan tidak bereaksi apapun saat melihat Jenar yang berdiri kaku sambil menyandar ke tembok dan mentapnya intens. Lelaki itu sudah pulang tanpa memberitahukannya terlebih dahulu.

“Dari mana aja kamu?” tanya Jenar. Suaranya berat dan terdengar dingin melebihi dinginnya udara malam yang tadi merayap di tubuhnya.

Enggan untuk menjawab, Kinan berlalu. Tidak memperdulikan Jenar yang memanggil-manggil namanya.

“Kinan, jawab.” nada yang diungkapkan dengan penuh penekanan itu membawa Kinan mematung.

Jenar meraih tangannya lembut. Dada Kinan dipenuhi oleh sesak yang membelenggu. Ingin rasanya memeluk Jenar karena rindu selama sepuluh hari tidak berjumpa. Tapi ia urungkan.

“Sayang, kamu dari mana?” tanya Jenar sekali lagi dengan lembut.

Sebelum menjawab, Kinan menatap netra Jenar yang nampak lelah. Jenar baru pulang dari Lombok malam ini, wajar saja wajahnya terlihat kucel dan kantung mata yang menghitam tercetak dengan jelas.

“Kamu pulang dari kerja?” tebakan dari Jenar itu langsung membuat Kinan membeku di tempatnya berdiri. Tak lama ia menangguk samar.

Hembusan napas panjang Jenar memecahkan keheningan selama beberapa detik setelah Kinan memberikan jawaban itu. “Aku udah tunggu kamu buat cerita tentang masalah ini tapi kamu masih diam. Aku udah baca dm-an kamu sama temenmu.”

Kinan menundukkan pandangannya. Perasaan bersalah menyelinap ke hatinya.

“Kenapa kerja sih? Aku bilang kamu fokus aja sama skripsi, yang kerja itu aku. Aku yang bakal nyari uang buat kamu, buat kita.”

“Aku belum jadi istri kamu dan aku nggak mau terus ngerepotin—“

Kinan tidak mampu menyelesaikan kata-katanya karena tangisnya sudah pecah. Jenar langsung memeluk tubuh Kinan erat. Membawanya dalam kehangatan yang menjalar disekujur tubuh.

“Nggak ada yang ngerepotin, sayang. Kamu sama sekali nggak ngerepotin aku. Mulai sekarang dan seterusnya kamu tanggung jawab aku, Kinan.” kata Jenar seraya mengelus pelan surai hitam Kinan dengan penuh kasih sayang.

Tubuh Kinan kian bergetar karena tangisannya. Kinan tidak tahu apa yang akan ia lakukan kalau saja ia tidak mempunyai Jenar.

It’s okay, I am here beside you. Always for you.”