116.

Beberapa jam duduk dan menyimak dekan membuat Jenar sering menghela napas. Seperti nostalgia, pikirannya kembali berkecamuk saat duduk di aula dengan menggunakan toga menunggu giliran namanya untuk dipanggil. Jenar yang terkenal mahasiswa aktif dan pintar, tak kaget lagi saat namanya dibacakan sebagai salah satu pemegang cumlaude di sana. Ia masih mengingat, betapa berbinar mata kedua orangtuanya dan mata Kinan saat menatapnya dari bawah sana. Jenar bahagia, ya, tentu saja. Apalagi saat wisuda ia didampingi oleh perempuan yang benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga ketika masih menjadi mahasiswa. Kinan adalah salah satu motivasinya agar ia terus melakukan hal positif saat kuliah.

Lamunan Jenar terpecah belah ketika nama Kinan dipanggil untuk maju ke depan. Semua mata tertuju padanya. Bagaimana tidak? Kinan tampil sangat cantik walaupun tubuhnya dilapisi oleh toga. Kinan mengikuti jejaknya. Perempuan itu lulus dengan cumlaude dan tepat waktu, membuat senyuman Jenar terus merekah. Ia sangat bangga kepada Kinan. Bak mutiara yang berharga, Jenar bersumpah akan selalu menjaganya dan tak membiarkan siapapun untuk memilikinya kecuali dirinya.

Akhir acara, Jenar keluar lebih dulu. Dia menunggu Kinan yang tak henti-hentinya mendapatkan sambutan selamat oleh banyak teman satu angkatannya.

“Udah lama?”

Jenar menoleh, menatap Kinan yang baru keluar dari aula tanpa berkedip. Ia menggeleng samar. “Why you are so pretty?” tanya Jenar pelan, kemudian mengecup pipi Kinan dan merengkuh tubuhnya.

Pelukan mereka terlepas. Kinan tersenyum tulus. Senyum bahagia. Walaupun mamanya tidak datang, ia cukup bahagia karena kehadiran Jenar di sini. Lelaki itu bahkan membawakan buket bunga untuknya.

Congratulation, sweetheart.” ujar Jenar bangga seraya menyerahkan bunga untuk Kinan.

Thank you.” Kinan menerimanya dan kembali memeluk Jenar.

Everyone look at you because you are so goddamn gorgeous today and I hate that. I mean, aku benci ngelihat orang-orang dengan tatapan genit ke arah kamu padahal kamu udah punya pacar.” gerutu Jenar dengan bibir mengerucut sebal.

Kinan tertawa pelan. Kinan menatap netra Jenar lekat, memandangnya seolah memuja. Lesung pipi Jenar yang tercetak tampak jelas karena laki-laki itu terus tersenyum ke arahnya. “Cutie dimple. Can I have it?”

Jenar menggeleng tegas. “No, but our kids can.” ucapnya disertai senyuman yang nampak indah.

Dan perempuan bermata teduh itu tersenyum menanggapi.

Sambil melihat keadaan sekitar yang lebih ramai, Jenar mengambil sesuatu di dalam saku celananya. Ia duduk berlutut di hadapan Kinan, membuka kotak kecil beludru itu sambil memperhatikan wajah Kinan yang terkejut. Semua orang di sana nampaknya juga sama terkejutnya.

Marry me?”

Kinan terdiam, masih tampak terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Okay, karena masih tidak ada jawaban, Jenar pun mengulangnya lagi.

Darling, marry me?”

Jenar dapat melihat jelas mata Kinan yang mulai berkaca-kaca dan air matanya siap terjun. Mendadak bibir Kinan terasa kelu. Samar-samar orang-orang yang tak jauh berada di antara mereka berteriak agar memberikan jawaban iya.

Lantas dengan mengangguk samar, Kinan pun mengatakan jawab, “Yes.” lalu sedetik kemudian pekikan orang-orang terdengar bergemuruh. Suara tepuk tangan saling bersusulan.

Jenar menyematkan cincin itu—yang dipesannya melalui Krystal tempo lalu saat kakak perempuannya itu berada di Prancis karena urusan bisnis— ke jari manis Kinan. Tampak pas terpatri di sana. Lalu Jenar kembali berdiri dan mengecup bibir Kinan pelan.

“Terima kasih Kinan, aku janji akan bahagiakan kamu. Selalu.” bisik Jenar ketika ia melepaskan kecupan di bibir Kinan.

By the way, babe, you looks perfect ten today,” puji Kinan malu-malu.

Semua orang mengakui itu betapa sempurnanya Jenar saat ini, terlihat bagaimana tak hanya dirinya yang menatap Jenar dengan tatapan memuja, namun banyak orang lain pun melakukan hal yang sama.

Of course, aku sempurna karena udah bisa milikin kamu sekarang.” balas Jenar. “Kamu tulang rusukku yang hilang, dan aku sudah berhasil menemukannya.” lanjut Jenar dengan sorot mata intens membuat Kinan seolah lupa kalau di sini, hanya mereka berdua.

Dan Kinan bersumpah, hari ini adalah hari bersejarah yang tidak akan pernah ia lupakan.