137.

Baru saja menginjakkan kakinya di apartemen, Kinan langsung disambut oleh suasana sunyi. Wangi parfume Jenar yang menguar ke semua tempat yang berada di ruangan apartemen ini menandakan bahwa sang empu memang sudah pulang.

Kinan mendekati kamar Jenar dan membukanya. Kamar itu tampak sepi dan hanya terdengar suara gemercak air dari dalam kamar mandi. Kinan memasukinya, sambil menunggu Jenar keluar dari kamar mandi, ia mendudukkan badannya di tepian kasur.

Matanya menatap foto berbingkai di atas nakas. Itu foto Jenar yang memeluknya dengan senyuman yang merekah. Kinan mengambil figura foto itu. Ditatapnya lekat dan sesekali dielus. Itu adalah foto saat usia hubungan mereka baru saja memasuki dua tahun dan foto itu diambil oleh turis asing saat mereka berada di Jimbaran.

Dari dulu memang mereka menghabis waktu libur untuk travelling bersama. Menikamati indahnya alam dan juga makanan-makanan di berbagai penjuru dunia. Kinan tersenyum mengingat betapa banyak hari yang telah mereka lalui bersama hingga saat di mana Jenar menyematkan cicin indah yang sekarang ia pakai di jemari lentiknya.

Perlahan senyum Kinan memudar seiring dia mendengar handphone Jenar yang berbunyi di atas nakas. Ia mengembalikan figura foto itu ke tempatnya dan beralih melihat notif di handphone Jenar melalui layar lockscreen. Dua pesan chat dari Michel yang mampu membuat dadanya sesak.

Je, kayaknya lipstik aku ketinggalan deh di mobil kamu. Dan makasih ya udah nganterin aku sampe rumah hehe.

Lantas Kinan langsung keluar dari kamar setelah meletakkan handphone itu kembali ke semula.

Tak lama, Jenar keluar dari kamar dengan sudah berganti baju. Ia menghampiri Kinan yang sedang berdiri di pantry sambil minum.

“Sayang, kamu udah pulang?”

Kinan menoleh, menghabiskan air minumnya dan menyuci gelasnya tanpa menjawab pertanyaan Jenar.

“Say—“

“Jujur sama aku.”

Alis Jenar bertaut menatap Kinan bingung. “Apa?”

“Kamu nggak cuma sengaja ketemu di sana kan sama Kak Michel?”

“No, aku emang nggak sengaja ketemu dia di sana.” elak Jenar. Cowok itu berdiri di hadapan Kinan dengan bersandar pada kitchen bar.

“Oh ya? Cuma itu?”

Jenar menangguk.

“Jangan lupa besok kembalikan lipstik Kak Michel yang ada di mobil kamu.”

What do—oh my gosh! Kinan, listen to me. Emang aku tadi anterin Michel pulang dan hanya sebatas itu, okay?”

“Kenapa nggak bilang kamu nganterin dia? Dan kenapa harus aku dulu yang nanya baru kamu jujur sama aku?”

Helaan napas Jenar terdengar kasar. “Aku cuma nganterin dia bukan selingkuh.”

Mata Kinan memincing menatap Jenar. “Who knows? Lagian dia masih suka sama kamu—dan ya… maybe you still love her too.”

Jenar menyugar rambutnya yang belum terlalu mengering. “Astaga, Kinan. Apa selama ini kamu selalu anggap aku gitu?” Jenar menaikkan nada bicaranya membuat Kinan sedikit terjengkit. “Kamu emang nggak pernah bisa percaya sama aku.” nada suara Jenar terdengar kecewa.

Kinan membuang muka. “Gimana aku bisa percaya sama kamu kalau kamu masih sering komunikasi sama dia?”

“Terserah, aku nggak mau ribut sama kamu. Aku capek.”

“Kamu kira aku nggak capek?!” teriak Kinan dengan suaranya yang mulai bergetar.

“Capek habis main sama temen-temen cowokmu maksudnya?” pertanyaan itu seolah menuduh Kinan yang tidak-tidak. Jenar menatapnya tanpa ekspresi.

“Kamu sendiri? Bukannya kamu baru selesai jalan sama Kak Michel, kok sekarang capek?”

Jenar mendengus. Daripada melanjutkan perdebatan yang tidak jelas ini lebih baik dia pergi dan mengalah. Jenar beranjak meninggalkan Kinan yang masih berdiri di sana. Ia masuk ke dalam kamar lalu keluar dengan hoodie yang sudah melekat di tubuhnya.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke mana aja asal aku pulang nggak lagi marahan sama kamu.” kata Jenar tanpa menatap Kinan kemudian berlalu.

Jenar memang seperti itu. Jika memang mereka berdebat, pasti Jenar yang selalu mencoba mengalah dengan meninggalkan Kinan agar dia tidak lagi terperangkap emosinya. Lalu jika sudah merasa tenang, ia akan kembali dengan berpura-pura tidak akan terjadi apa-apa dan bertingkah manja pada Kinan.