146.

Saat pertama kali memasuki lingkup rumah sakit, hal permata yang tercium oleh indera penciumannya adalah aroma obat-obatan yang khas. Kakinya yang sudah bergemetar dilangkahkannya menuju ruangan baru di mana tempat Jenar sekarang dirawat. Kinan tetap jalan atau bahkan berlari agar segera sampai ke tujuan. Meskipun dengan air mata yang sejak tadi dia tahan di dalam mobil, kini berembes dan menyisakan kepiluan. Yang dipirkannya hanya satu, Jenar tidak mengingatnya. Dan itu membuatnya hampir tersungkur karena menabrak beberapa orang saking tidak fokusnya berjalan.

Kinan menetralkan deru napasnya begitu sampai di depan pintu ruangan. Ada Kairo dan Krystal di luar ruangan sembari menatap Kinan dengan sedih. Mereka berdua menyuruh agar Kinan tetap tenang.

“Tenangin diri kamu dulu ya, Kin. Di dalam ada Jenar dan… Michel.” kata Krystal mengusap pelan pundak Kinan.

Dua menit menenagkan diri, Kinan pun memutuskan untuk masuk.

Kedua insan yang ada di dalam ruangan menoleh saat Kinan masuk ke dalam ruangan. Netra Kinan menatap lekat Jenar yang benar-benar sudah sadar dan tanpa alat-alat medis—selain infus. Meskipun begitu, wajahnya masih terlihat pucat.

“Hai.” sapa Kinan canggung seraya menarik kursi di samping brangkar. Ia duduk berhadapan dengan Michel yang tangannya tengah digenggam erat oleh Jenar. Kinan meringis melihatnya.

Jenar menatapnya kebingungan. “Salah ruangan, ya?” tanya Jenar bingung yang tiba-tiba melihat orang asing masuk dan duduk di sebelahnya.

Kinan menggeleng pelan. Ia menundudukkan wajahnya menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia beryukur karena Tuhan mengabulkan doa-doanya agar Jenar kembali membuka mata. Tapi ia juga menangis karena keadaan Jenar sekarang yang melupakannya.

“Kamu siapa?” pertanyaan itu lantas membuat Kinan mendonga dan menatap wajah Jenar yang masih dalam kebingungan. Kinan menatap bola mata Jenar yang tampak menggelap. Lidahnya seolah kelu untuk menjawab siapa dirinya.

“Sayang, dia siapa?” tanya Jenar kepada Michel.

Untuk kesekian kali hati Kinan mencelos.

Michel menatap Kinan dan Jenar bergantian kemudian tersenyum kepada lekaki itu. “Dia adik tiri aku.”

Tidak ada lagi pertanyaan karena Jenar menanggapinya dengan anggukan kecil.

Suara deritan pintu membuat ketiganya untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan. Krystal dan Jessica, maminya Jenar.

Jessica menatap Kinan dengan nanar. Calon menantu cantiknya itu selalu menunggu Jenar dan bahkan selama dua belas hari Jenar koma, Kinan tidak pernah berpindah dari tempatnya.

“Chel, lo udah terlalu lama di sini dan lo pulang sana. Gantian sama Kinan.” suara Krystal memecah keheningan.

“Aku masih kangen sama pacarku, Kak.”

Kinan menoleh, menatap dalam Jenar yang baru saja mengatakan itu. Tubuhnya langsung lemas seketika. Kenyataan telah menamparnya dengan keras hingga berdiri saja rasanya tidak mampu.

“Pacar lo tuh yang duduk di samping kanan lo!” Krystal menunjuk ke arah Kinan dan Jenar pun langsung menatap Kinan.

Jenar menggeleng lemah. “Pacar aku Michel.”

“Je—“

“Nggak apa-apa, Mi, Kak. Biar aku aja yang keluar. Kayaknya Kak Jenar lebih butuh Kak Michel untuk saat ini.” kata Kinan menyela perkataan Jessica.

Kinan mencoba untuk berdiri. Sebelum dia keluar dari ruangan, dia menatap Jenar lamat. Seolah tidak sadar, tangan kanannya menyentuh kepala Jenar yang masih diperban. Jenar menepisnya kuat, membuat beberapa orang disana terkejut atas perlakuan Jenar.

“Don’t touch me! I don’t like the stranger to touch my body.” perkataan itu langsung membuat dinding yang dibangun Kinan runtuh seketika. Kinan menjatuhkan bulir air matanya dan menangis dalam diam. Tangannya terasa sedikit sakit saat Jenar menepisnya tadi.

I am sorry.” bisik Kinan pelan sebelum berjalan meninggalkan ruangan dengan dadanya yang begitu sesak.

Kinan ambruk. Ia tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya. Ia duduk di lantai setelah berhasil menutup pintu ruangan. Orang-orang berlalu lalang menyaksikan betapa memilukannya tangisannya. Duduk di atas dinginnya lantai rumah sakit dengan tangisnya, Kinan bahkan tidak memperdulikan orang lain yang menataonya ibah.

Untuk hari esok dan selanjutnya, Kinan tidak tahu apakah dia benar-benar bisa memulai harinya.