The Cleopatra
Semua mata tertuju pada perempuan cantik yang tengah berjalan dan menatap fokus ke depan, tanpa memperdulikan beberapa karyawan yang bergosip ria tentang dirinya. Penampilan Rere yang menonjol dengan rok pendek span dan blouse berdada rendah juga kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuat hampir semua orang menatapnya tanpa berkedip.
Sampai saat Rere ke meja resepsionis untuk menanyakan ruangan Jeffran ada di lantai berapa, salah satu karyawan menatapnya judes.
“Ruang kerja Pak Jeffran di lantai berapa, ya?” tanya Rere sopan.
“Maaf mbak, Pak Jeffran lagi di luar negeri jadi tidak bisa ditemui.” ucap karyawan yang lainnya dengan senyuman paksa.
'Ya gue juga tau kali, orang yang nyiapin keperluan dia ke luar negeri gue.' ucap Rere dalam hati.
“Saya mau ketemu sama Pak Johnny Orlando.” balas Rere datar.
Dengan sedikit kesal, karyawan yang dari tadi melihat Rere dengan wajah julidnya itu ikut menyahut. “Iya mbak, tapi Pak Johnny-nya juga lagi sibuk dan ada rapat dadakan. Kalau belum ada janji mbaknya tidak bisa langsung ketemu.”
Rere menghela napasnya. Ia melepaskan kaca matanya dan menyimpannya ke dalam tas dior yang baru saja dibelikan Jeffran untuknya.
“Mbak, Pak Jeffran-nya ada?” baru saja Rere akan membuka suaranya, tapi ia urungkan karena tiba-tiba muncul perempuan anggun ke meja resepsionis dan menanyakan keberadaan Jeffran.
“Pak Jeffran lagi di luar negeri. Oh, mbak ini mbak Kia, kan?”
Mendengar itu, Rere langsung menoleh. Matanya langsung menjelajahi setiap inci badan Kia yang menurutnya biasa saja dan lebih bagus badannya.
Kia tersenyum ramah dan menangguk. “Iya, kalau Pak Johnny Orlando ada?”
Karyawan tadi membalas senyum Kia, lalu mejawab dengan ramah. Tidak seperti saat berbicara dengan Rere yang terdengar lebih ketus. “Ada mbak, mbak langsung aja ke ruangannya.”
“Mbak, maksudnya apa membedakan saya dengan orang itu?” ketus Rere langsung. Emosinya langsung membuncah saat ada deskriminasi pada dirinya.
“Tentu saja berbeda, mbak. Hampir semua karyawan mengenal mbak Kia karena mbak Kia pacaran Pak Jeffran.” jelas karyawan tersebut yang juga kesal pada Rere.
'Brengsek.' maki Rere dalam hati. Ia memejamkan matanya menahan amarah.
Sedangkan Kia hanya tersenyum manis tanpa menanggapi perkataan karyawan yang menyinggung hubungannya dengan Jeffran. “Saya permisi ya, mau ketemu Johnny dulu.” pamit Kia kepada beberapa karyawan di sana.
Salah satu karyawan tersenyum dan mempersilakan Kia. “Silakan mbak Kia,” lalu beralih menatap Rere dengan tatapan judesnya. “Mbak, kalau masih ngotot ketemu Pak Johnny tanpa ada janji terlebih dahulu, maka maaf saya akan panggilkan satpam.”
Demi Tuhan, Rere rasanya ingin mengacak-ngacak seluruh kantor Jeffran. “Lo pikir lo siapa berani panggil satpam?” teriak Rere, membuat beberapa orang yang tadinya berjalan lalu menghentikan langkahnya demi melihat Rere yang sedang meluapkan amarahnya.
Seluruh karyawan bagian resepsionis langsung panik mendengar teriakan Rere yang cukup nyaring. Lantas salah satu dari mereka langsung menelfon satpam agar segera menyeret Rere keluar dari kantor.
Tak lama, dua satpam langsung berlari ke arah Rere dan menarik kedua tangan Rere secara paksa untuk membawanya keluar kantor.
“Jangan pegang-pegang, gue bisa jalan sendiri!” bentak Rere murka. Mendengar itu kedua satpam melepaskan tangan mereka.
Sambil menahan tangisnya agar tidak pecah karena malu dan sakit dibagian kedua tangannya, Rere langsung mengambil handphone-nya dan mengirim imessage pada Jeffran.
'Pecat seluruh karyawan resepsionis dan dua satpam yang lagi shift sore ini.'