Kia
Setelah membalas imessage Kia, Rere langsung meletakkan handphone Jeffran di atas nakas dengan wajahnya yang kesal. Lalu tak lama kemudian, Jeffran baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan ke badannya dan rambutnya yang basah itu mampu membuat napas Rere tercekat keseperkian detik.
He's so fucking hot. Rere berani bersumpah akan hal itu. Apalagi dada bidang Jeffran yang terbuka tanpa tertutup sehelai kain pun.
Jeffran berjalan cuek, tanpa memperdulikan Rere yang kini telah membuang muka karena ketahuan menatapnya.
“Tuh, bajunya udah aku siapin.” kata Rere sedikit canggung.
Jeffran hanya mengangguk dan mengambil bajunya. “Kok kamu punya baju cowok?”
“Punya orang dulu, tapi masih bagus kok.”
Lalu kemudian Jeffran kembali menanggukkan kepalanya mengerti dengan maksud Rere. “Jadi kamu kasih saya baju bekas mantan kamu?”
“Enak aja bekas, masih baru tuh!” ucap Rere kesal. Dan Jeffran hanya tertawa pelan. “Lagian pake aja kenapa sih!” lanjutnya.
Sebenarnya itu kaos hitam milik Jevano, dulunya akan diberikan pada cowok bermata bulan sabit itu, namun lebih duluan mereka putus jadi Rere simpan saja bajunya.
“Om, jangan ganti di sini!” teriak Rere panik begitu Jeffran melepaskan handuk yang melilit tubuhnya sedari tadi.
“Apa sih, Re? Saya pakai celana. Mesum banget pikiran kamu.” ejek Jeffran setelah berganti pakaian, terlihat cocok dan pas di badannya.
“NGGAK YA! ENAK AJA!” elak Rere yang sudah blushing, menahan rasa malunya.
Puas menjahili Rere, Jeffran duduk di tepian kasur dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Sedangkan Rere, dia menjemur handuk yang dipakai Jeffran di balkon kamar.
Rere yang tadinya mau mengambil handphone di atas nakas, langsung gemas melihat Jeffran yang masih mengeringkan rambutnya lantas ia mengambil handuk kecil dari tangan Jeffran dan mencoba membantu mengeringkan rambut pria itu. Jeffran hanya menurut, membuat Rere gemas dengab sendirinya.
“Apa?” tanya Rere pelan, bahkan sedikit mencicit.
Jeffran menuntun Rere ke pangkuannya. “Biar gak capek berdiri.” bisik Jeffran tepat di telinga Rere.
Dengan pelan Rere masih mengeringkan rambut Jeffran, sedangkan pria itu masih melingkarkan tangannya di pinggang Rere dan sesekali tersenyum melihat wajah Rere yang berubah menjadi serius tanpa sepengetahuan Rere.
Pergerakan tangan Rere terhenti tatakala pelukan Jeffran semakin terasa posesif di pinggangnya. Rere mendunduk, matanya tepat bepapasan dengan mata Jeffran yang memandangnya dalam. Seakan terbawa suasana untuk kedua kalinya, Jeffran merapatkan pelukannya dan mencoba mendekatkan wajahnya dengan wajah Rere. Perlahan kedua mata Rere tertutup pelan, begitupun mata Jeffran. Hembusan nafas hangat Jeffran menerpa kulit wajahnya saat hampir saja bibir mereka bertemu sebelum lebih dulu bunyi nada dering telepon dari handphone Jeffran terdengar, menghentikan aktifitas mereka.
Rere mendorong badan Jeffran dengan cepat, lalu berdiri dan mengintip siapa gerangan yang benerani merusak momen penting ini.
“Siapa?” tanya Jeffran mengambil handphone-nya di atas nakas.
“Kia.” jawab Rere cuek. Tiba-tiba saja dia teringat isi chat Jeffran dengan Kia. “Jangan lupa jemur handuknya.” Rere melemparkan handuk kecil itu ke arah Jeffran lalu meninggalkannya sendirian di dalam kamar.
Okay, mungkin Rere cemburu.