Family Talks

“Mami!”

Skala langsung berseru ketika Rere masuk ke dalam kamarnya. Pekikannya nyaring sampai membuat Rere dan Jeffran tertawa.

“Mami mau tidur di sini?” tanya Skala antusias sambil lompat-lompat di kasur. Jagoan kecil Jeffran itu sangan hiperaktif.

“Iya dong!”

Rere berhampur ke ranjang, memeluk Skala dengan penuh kasih sayang. “Kenapa belum tidur?”

“Belum bisa tidur.” jawab Skala yang masih dalam pelukan Rere.

“Ada yang lagi abang pikirin?”

Skala menangguk, “Mikirin Mami sama Papi.”

Rere mendengus, “Bisa gombal juga.” lalu melepas pelukannya kemudian membaringkan Skala dan disusul dirinya.

Jeffran yang tadi hanya tersenyum melihat keduanya, kini memeluk mereka.

“Abang minta adik ya?” tanya Rere tiba-tiba, membuat Skala menangguk cepat.

Suasana jadi hening beberapa saat, tak lama Jeffran ikut menyahuti. “Abang tuh sebenarnya punya adik dua loh, sayang.”

Kedua mata Skala membulat. “Wah, serius, Pi?!” pekiknya. Jeffran hanya mengangguk.

“Kalau gitu, mana adiknya Abang?” pertanyaan Skala mampu menohok hati keduanya. Apalagi Rere, wanita itu sangat sensitif jika harus membahas ini.

Rere mengelus rambut Skala pelan. “Ada, tapi Abang belum bisa lihat. Nanti ada waktunya.” jawab Rere pelan, sedikit tercekat.

Untungnya Skala hanya menangguk-angguk. “Jadi, abang harus pintar dulu ya biar bisa lihat dua adiknya abang?”

“Iya dong. Nggak boleh bandel.” timpal Jeffran, pria itu kini mengelus pelan punggung istrinya, seakan menberikan artian harus tetap kuat.

“Siap Bos! Abang gak akan nakal dan bandel deh kalau gitu.”

“Anak pintar. Sekarang tidur ya?” Skala yang tadinya menghadap Jeffran, kini langsung berbalik menghadap Rere dan memunggungi Jeffran.

Menit berikutnya, Jeffran ikut terlelap bersama dengan Skala. Sedangkan Rere diam-diam menangis dalam sunyinya malam sambil mengeratkan pelukannya kepada orang-orang disayanginya.