Penjelasan Skala
Rere sedikit terkejut begitu ia terbangun dari tidurnya dan melihat Jeffran di bawah sofa—duduk di karpet bulu. Rere menggeliat pelan membuat Jeffran sadar dari eksetensinya ke televisi lalu berganti pada Rere yang terbangun dari posisinya.
“Udah bangun?” tanya Jeffran basa-basi. Sedangkan Rere hanya bergumam dan membenarkan posisi duduknya. Ia menggeliat lagi merenggangkan otot-ototnya yang kaku dan menguap. Jeffran yang melihat itu hanya tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa seperti keributan tadi siang di grup chat keluarga.
“Aku cariin kamu kemana-mana eh taunya di sini tidur. Abang yang bilang tuh kalau kamu ketiduran di sini.” kembali Jeffran membuka topik pembicaraannya namun Rere masih diam, tidak tahu harus apa. “Aku minta maaf ya?” sambung Jeffran pelan.
Rere menangguk. “Abang mana?”
Jeffran yang tadinya duduk di bawah kini duduk di sofa. “Di kamar. Mau aku panggil anaknya?” tanya Jeffran yang langsung dibalas oleh gumaman kecil. “Janji jangan dimarahin ya?”
“Iyaaaaa,” jawab Rere cepat. Sebelum Jeffran berdiri, ia mengecup dahi istrinya kemudian beranjak.
Selang beberapa menit, akhirnya Jeffran balik dengan jagoannya. Skala hanya bisa menunduk karena masih takut dan merasa bersalah.
“Mami.” panggil Skala pelan. Rere merentangkan tangan dan memeluk Skala. Semarah apapun dia dengan Skala, itu hanyalah emosi sesaat. Lagipula Rere menyesal.
“Mami, Abang minta maaf, ya?” kata Skala sungguh-sungguh. “Maaf udah buat Mami malu.” lanjutnya pelan.
“Iya, tapi abang janji dulu ke mami gak boleh ngulangin lagi. Janji?”
Skala tersenyum dan menangguk. “Janji!”
“Mami juga minta maaf udah marahin Abang kayak tadi, maafin Mami ya?” Skala menangguk dan tersenyum.
Anak laki-laki itu kemudian menatap papinya. “Abang juga minta maaf sama Papi. Dimaafin gak, Pi?”
“Tergantung, kalau kamu gak ngulang dan jujur Papi maafin.” balas Jeffran. Kali ini nada bicaranya terdengar tegas.
“Janjiiiiiiiiii. Emang papi mau nanya apa? Nanti aku jujur deh.”
Jeffran menyipit, “Apa ya? Mami deh kayaknya mau nanya.”
Rere menghembuskan napasnya, “Kenapa Abang sampai lihat gituan sih? Kan sebelumnya gak tau?”
Skala terdiam cukup lama. Lalu akhirnya ia memberanikan dirinya untuk jujur.
“Itu Mi... karena aku khawatir sama Mami sama Papi, kan setiap pagi itu tuh... Papi sama Mami rambutnya basah gitu, jadi aku takut kenapa-kenapa sama Mami sama Papi...” kata Skala dengan sedikit pelan, jujur ia sangat takut.
Jeffran dan Rere menunggu penjelasan dari anaknya lagi.
“Terus, ya karena aku takut jadi aku tanya Heksa. Aku nanya apa Mamanya sama Papanya kayak Mami dan Papi gitu, taunya iya. Tapi awalnya aku gak paham, jadi Heksa mau kasih liat video gitu terus aku mau aja.”
“Astaga...” ucap Rere dan Jeffran kompak. Kedua pasangan itu saling menatap dan melongo mendengar penjelasan anaknya yang begitu polos.
Kini bergantian Jeffran menghembuskan napasnya cukup panjang. “Abang harusnya nanya mami atau papi langsung dong sayang. Duh, sampai mana kamu lihat videonya?”
Skala tersenyum malu-malu dan menunduk. “Aku lihat ada cewek sama cowok yang baru buka baju kok Pi, belum yang aneh-aneh. Tapi udah lihat yang bagian itu...” Skala menghentikan kalimatnya, lalu melirik kedua orangtuanya bergantian.
“Bangian apa?” tanya Rere frustasi karena Skala menggantungkan ceritanya.
“Bagian cium.” jawab Skala pelan, bahkan sangat pelan. Rasanya takut dan malu bercampur menjadi satu. “Tapi sebelum itu Abang juga pernah lihat Mami sama Papi cium-cium kok. Maaf Mi, Pi, tapi aku gak sengaja. Cuma lihat bentar aja karena malu....”
HAH.
Saat itu juga Rere dan Jeffran langsung gelagapan, saling menatap, dan berdehem canggung.