Prolog
Kicauan burung terdengar merdu. Ada kalanya kicauan itu seakan menerjemahkan bahwa hari esok telah tiba dengan segala aktivitas yang baru akan dimulai.
Jeffran membuka pintu rumah sambil menggendong putra semata wayangnya yang kini berusia lima tahun.
Skala Jingga sangat dimanja Jeffran, lihat saja setiap paginya, pria itu tidak pernah absen dari menggendong sang buah hati. Baik saat akan kerja pun, Jeffran menyempatkan untuk menggendong Skala walaupun sang anak semakin besar dan bertambah berat.
“Mau masak apa?” tanya Jeffran masih menggendong Skala.
Rere yang baru selesai berbelanja sayuran di depan rumah langsung mencium pipi Skala gemas. Sejak melahirkan Skala, Rere semakin berbeda. Tidak lagi manja, suka kelayapan atau apapun, yang ada sekarang ia bagian mengurus anaknya juga suaminya dengan penuh kasih sayang, seperti memasak dan menyiapkan makan. Selayaknya seorang ibu rumah tangga pada umumnya.
“Kang sayurnya nggak bawa ayam, kesiangan katanya. Kamu suka cumi-cumi, kan?”
Jeffran menangguk tanpa ragu. Kadang, hal sekecil itu masih ditanyakan Rere. Padahal ia sudah hampir tujuh tahun berumah tangga dengan Jefftan tapi Rere masih suka menyakan hal-hal seperti itu.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.
“Pi, Kala mau pipis.” kata Skala sambil mengucek matanya pelan.
“Sekalian mandi ya, sayang? Ayo Papi mandiin.” dengan telaten, Jeffran melepaskan pakaian putranya.
Jeffran menggendong Skala di atas pundaknya. Anak kecil itu hanya tertawa riang sambil memegang kepala Jeffran sebagai pegangan.
“Mas, cuminya dikrispi atau ditumis?” teriak Rere dari arah dapur.
“Tepungin aja, sayang—Kala! Papi basah, nih!”
Skala yang jahil masih memercikkan air ke Jeffran hingga setengah bajunya basah. Karena sudah terlanjur basah, Jeffran membuka bajunya dan memilih bertelanjang dada sambil memandikan anaknya.
Selesai memandikan Skala, Jeffran pun memakaikan baju untuk Skala. Anaknya benar-benar berbibit unggul seperti dirinya dan istrinya.
“Mas, sini makan!” teriak Rere lagi dari arah dapur.
“Wah!” Jeffran selalu kagum dengan Rere. Masakan istrinya selalu menjadi favorite setelah masakan mamanya. Tapi sekarang sepertinya seimbang.
Rere menyuapi Skala dengan cumi-cumi krispi dan sayur sop.
“Enak?” tanya Jeffran seraya mengelap butiran nasi yang tertinggal di pipi anaknya.
“Enak!” seru Skala.
“Mami jago masak, ya?”
Skala langsung mengangguk, kemudian melahap lagi suapan terakhirnya. Bagi Rere, anak lebih utama, maka dari itu dia mendahulukan Skala daripada dirinya.
Kecerdasan Skala seperti Jeffran, dan kecerewetannya seperti Rere, paket lengkap.
Keluarga kecilnya sangat bahagia, apalagi sejak datangnya Skala ke dunia. Seperti anugrah terindah. Skala memang permata hati, bukan hanya untuk mereka berdua, namun untuk beberapa orang. Bahkan tetangga pun gemas melihat Skala yang kadang bermain di luar rumah.