—Sensitive Topic

Saat di dapur, Rere sengaja diam dan tidak membuka topik pembicaraan terlebih dahulu karena masih terlalu takut kalau saja maminya akan mengungkit masalah pisah ranjangnya.

“Jeffran tuh ganteng, baik banget, dan sayang sama orang tua. Sayang banget Re kalau kamu sakitin.” tiba-tiba saja maminya membuka topik mengenai Jeffran.

Rere yang memotong wortel otomatis menghentikan aktifitasnya sambil mendengar celoteh lanjutan dari maminya.

“Lagian kenapa sih kamu kayak gitu ke Jeffran? Dia tuh suami kamu. Harusnya disayang-sayang, dimanjain gitu biar betah sama kamu. Bukannya malah pisah ranjang.”

Maya—mami Rere— mulai meniriskan ayam setelah ia goreng, lalu duduk di depan Rere, membantu anaknya memotong sayuran untuk sayur sop.

“Emang Jeffran bau sampai kamu gak mau tidur bareng sekamar sama dia?” tanya Maya, berusaha memancing Rere agar bercerita pada inti masalah.

Helaan napas Rere terdengar lumayan keras sebelum menjawab pertanyaan Maya. “Bukan mi, dia itu wangi banget bahkan...”

“Tapi?” Maya memotong ucapan Rere, sedikit gemas juga dengan anak semata wayangnya ini.

“Kan Rere masih kuliah dan belum skripsian, ya mami pasti taulah maksud aku.” lanjut Rere sedikit blushing.

Maya menatap netra anaknya dalam, “Re, mami tahu itu. Kan bisa dicegah dulu pakai kontrasepsi atau gak kamu minum pil KB, kasihan juga tuh masa Jeffran harus nahan-nahan padahal punya istri?”

Perkataan maminya langsung membuat Rere menundukkan kepalanya karena malu. Topik pembicaraan mereka benar-benar sensitif kali ini. Melihat wajah Rere yang berubah, sebenarnya Maya gemas sekali pada Rere. Tapi bagaimana pun, permasalahan ini harus diusut sampai tuntas.

“Atau jangan-jangan kamu belum pernah kasih Jeffran jatah, Re?”

Rere mendengus kasar, Maya terlalu buka-bukaan kartu. “Mami, apaan sih?!”

Lantas Maya cekikikan menahan tawanya. “Tuh kan, pasti belum. Hati-hati ya Re, jangan diterusin. Mami takutnya Jeffran jajan di luar, kan bahaya.” goda Maya.

“Ya gimana mau ngelakauin 'itu' kalau aku aja belum suka sama dia?”

“Masa sih? Tapi Jeffran kayaknya udah suka banget sama kamu deh.” ucap Maya serius.

Rere akhirnya berdiri dari tempat duduknya karena tahu maminya pasti akan menggodanya habis-habisan. “Dih, sok tau.” celetuknya kemudian.

Maya melotot, “Sok tau apanya orang bener kok. Dilihat dari cara Jeffran natap kamu tuh kelihatan banget Re!”

'Iya keliahatan ngibulnya. Orang dia semalem habis telfonan sama si Kia-Kia itu.' kata Rere dalam hati.

Tanpa menanggapi omongan Maya lebih lanjut, Rere pun meninggalkan maminya sendirian di dapur.