Sugar
Hal pertama yang dilihat Jeffran ketika baru turun dari anak tangga adalah melihat Rere yang sedang minum vitamin. Senyumnya merekah ketika ia melirik perut istrinya yang sedikit membuncit itu. Kebahagiaannya tengah meluap-luap.
“Loh, mas kok udah rapi? Udah bisa kerja?” Rere sedikit kaget tadinya saat dipeluk Jeffran tiba-tiba dari belakang dan melihat suaminya sudah rapi dengan pakaian kantornya.
Jeffran tanpa bersuara dia hanya menangguk, mencium dalam tengkuk Rere. Kemudian ia membalikkan bandan Rere dan mencium bibirnya sekilas, sebagai tanda morning kiss.
“Susunya udah di minum?” tanya Jeffran dan dibalas gelengan oleh Rere.
“Kan belum sarapan.” kata Rere sambil cengengesan, membuat Jeffran kembali gemas dan mengecup pipi Rere.
“Aku kira kamu belum bisa bangun, soalnya tadi lagi aku cek kamu demamnya masih tinggi. Jadi aku udah siapin makan sih, cuma belum aku bawa ke kamar karen—” belum sempat Rere melanjutkan omongannya, Jeffran sudah terlebih dahulu mencium bibir Rere. Mengecupnya berkali-kali sampai perempuan itu protes.
Akhirnya mereka makan bersama. Dan ketika sudah selesai makan, inilah saatnya arti kata “bantuan mas Jeffran” itu dimulai.
Jeffran terus memaksa Rere agar meminum susu hamilnya tapi perempuan itu selalu menolak, sampai Jeffran jengah dan menghimpit tubuh istrinya di kursi agar tidak kabur.
“Kok kamu minumnya banyak banget?” protes Rere begitu mengetahui Jeffran meminum susu hamilnya hampir setengah gelas dan setangah gelasnya lagi adalah jatahnya.
“Enak.” jawab Jeffran. Lalu kemudian ia meminum lagi, membuat Rere memelotot. Apalagi saat ia akan protes, Jeffran lebih dahulu meraih bibirnya, menciumnya. Sebenarnya tidak menciumnya sih, Jeffran hanya perlu memindahkan susu itu dari mulutnya ke mulut Rere saja.
Jeffran meringis ketika punggungnya dicubit oleh Rere. “Gimana? Enak kan?” tanyanya jahil.
Rere tak menjawab dan hanya mendengus kesal.