Skala Jingga
Suara lantai yang dingin dan sepatu Jeffran beradu menjadi satu. Pria itu baru saja turun dari mobilnya dengan wajah yang pucat fasih, dadanya bergerumuh. Ia berlari kecil hingga sampai ruangan yang dimaksud oleh Jevano.
Di sana ada Rere yang menangis, menunggu Jeffran yang baru juga muncul di hadapannya. Jeffran duduk di kursi samping brankar, tangannya menggenggam jemari Rere dan mengecupnya. Berkali-kali pria itu membisikkan kata-kata semangat, sesekali menyeka peluh di dahi istrinya.
“Aku mau normal, mas. Aku gak mau caesar.” katanya lemah, sambil menangis.
Sedangkan Jeffran, pria itu lebih realistis setelah mendengar perkataan dari dokter kalau lahiran normal tidak memungkinkan karena Rere sudah kehilangan banyak darah. Jika biasanya Jeffran akan menuruti semua perkataan wanitanya, tidak dengan kali ini. Pria itu tidak mau mengambil resiko yang berbahaya untuk anak dan istrinya, maka dari itu dia tidak mengizinkan Rere untuk melahirkan secara normal.
“Nggak, kamu udah kehabisan banyak darah sayang. Caesar aja ya?” tawar Jeffran, jemarinya menyeka air mata Rere yang berlinang.
Lama tidak membalas, akhirnya Rere menangguk lemah. Dan saat itu, ia tidak lagi merasakan apa yang terjadi pada dirinya ketika jarum suntik itu menusuk kulitnya, memberikan bius yang kuat untuknya.
Tangan Jeffaran tidak berhenti menggenggam tangan kanan Rere, sambil berbisik di telinga perempuan itu. Membisikkan serangkaian kata bagaimana dia jatuh cinta dengan Rere hingga begitu dalam.
Hampir memakan waktu satu jam lamanya, akhirnya tangisan bayi itu pecah. Tangisannya nyaring, mekekakan telinga, dan seakan merampas keheningan.
Jeffran dengan wajahnya yang kacau menangis bahagia, begitupun Rere. Jeffran mengecup telapak tangan Rere yang masih berada di dalam genggamannya, lalu mengecup dahinya yang masih dengan keadaan menangis.
“Terima kasih banyak, sayang. Makasih kamu sudah lahirkan anak aku, makasih karena kamu udah bersedia menjadi istriku.” bisiknya lembut tepat di telinga Rere.
Kebahagiaan yang sesungguhnya ia rasakan. Apalagi saat ia melihat anak pertamanya yang benar-benar ganteng. Memang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, visual Jeffran junior sangat sempurna, seperti foto copy-an antara dirinya dan Rere.
Dengan berhati-hati, Jeffran mencoba menggendong anaknya. Bayi mungil itu sangat tampan seperti dirinya.
“Skala, namanya Skala Jingga.” ucap Jeffran pelan, sambil menatap anaknya dalam-dalam.
Ada belasan nama yang sudah dihafalkan oleh Jeffran sebenarnya, namun mendadak ia melupakan semua nama itu dan tanpa sadar ia mengucapkan nama itu.
Skala yang berarti mempesona, dan penuh karisma. Lalu Jingga adalah keadaan langit yang sekarang menyemburatkan sinarnya yang oranye seakan memberi ucapan 'selamat datang' kepada bayi mungil itu.
—FIN—