Wejangan Jeffran Untuk Rere

Handphone Skala berdering keras di atas sofa ruang tamu, sedangkan yang punya justru tidak ada di sekitar ruangan. Rere yang melihat handphone anaknya itu segera mengambilnya, dengan niatan ingin mengangkat telfon. Namun belum sempat menekan tanda hijau, deringan telfon itu berhenti dan disusul oleh beberapa chat setelahnya.

| Heksa Woy, kampret ayo mabar Lo kemana dah katanya mau mabar

Rere hanya menggeleng-gelengkan kepalanya membaca chat Heksa dari lockscreen. Tak lama Jeffran datang dari arah dapur dengan membawa jus jeruk dan ikut duduk di samping istrinya.

“Kenapa?” tanya Jeffran keheranan melihat muka Rere yang kusut.

“Liat tuh chat Heksa di hp anak kamu. Aku takut banget kalau nanti Abang salah bergaul sama temennya deh,” jelas Rere yang kemudian memposisikan kepalanya di paha suaminya.

Jeffran membelai surai hitam Rere sebelum membalas. “Ya gak mungkin lah. Heksa anak baik-baik kok. Lagian juga wajar aja anak seumuran abang tuh udah pake lo-gue-lo-gue kalau ngomong.”

Rere berdecak, “Tapi gak sopan tau, mas.”

“Lebih gak sopan mana sama kamu yang dulu manggil aku begitu?”

“Itu kan dulu, sekarang mah aku mau manggil kamu mas sama sayang,” kata Rere berusaha membela diri.

Jeffran tertawa pelan. “Re, lagian kalau ngedidik anak tuh jangan terlalu keras deh. Skala tuh wajar, namanya anak-anak. Ya biar gaul dikitlah.”

Rere hanya diam sambil mendengarkan. “Sebenernya tadi aku juga dengar sih kalau abang lo-gue gitu sama Heksa di telfon. Ya menurut aku gapapa, asal dia gak nakal aja. Anak tuh kalau dididik terlalu keras nanti takutnya tambah nakal, nakalnya diem-diem tapi. Jadi kamu sebagai maminya, ya dididik sewajarnya. Nanti kalau skala salah, diingatin yang baik, jangan dimarahain gitu sayang.”

Dari wejangan Jeffran, Rere yang tadinya terdiam kini menangguk mengerti. Peran Jeffran memang bukan main-main di keluarga kecilnya. Pria itu bertanggung jawab penuh dan berusaha untuk membahagiakan dirinya juga Skala, anaknya.