pirorpeer

Setelah acara fitting gaun selesai, Jeffran sengaja mengajak Rere untuk lunc bareng di salah satu restoran mewah dekat dengan kantornya.

Melihat wajah Rere yang dari fitting gaun tadi sudah ditekuk, Jeffran hanya bisa mengamati dalam diam. Bukan hanya Rere saja yang menolak pernikahan, namun kalau bisa Jeffran juga akan menolak karena hantinya belum bisa menerima orang lain setelah putus dengan mantan pacarnya dua bulan yang lalu.

“Om, jadi nanti habis nikah om pindah kan? Maksudnya, om bakal balik ke luar negeri dan gue tetap di Indo gitu? Jadi kita kayak pisah gitu, iyakan om?” tanya Rere membuka percakapan setelah mereka sama-sama dalam keheningan yang cukup lama.

Jeffran tersenyum, akhirnya Rere mau berbicara dengannya, meskipun memakai bahasa lo-gue. “Gak Re, saya menetap di Indo karena proyek di luar negeri sudah selesai. Dan setelah menikah, kita tinggal bersama.” jawab Jeffran menjelaskan.

Rere berdecak pelan. “Yah, gue kira gitu.” balasnya dengan wajah cemberut.

“Berat ya, Re?” Rere hanya menangguk pelan menanggapi pertanyaan dari Jeffran. “Maaf ya, sudah nempatin kamu diposisi ini. Tapi saya janji, setelah kamu jadi istri saya, saya akan tanggung jawab penuh sama kamu.”

“Walaupun kita gak saling suka, om?”

“Iya.” Jeffran terdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Saya akan berusaha melakukan yang terbaik buat kamu. Dan...”

“Dan apa?”

“Buat kamu jatuh cinta sama saya, dan saya jatuh cinta sama kamu.”

Seusai mengucap itu, suasana menjadi sedikit canggung.

“Om, tapi boleh gak gue minta satu syarat?”

“Apa?”

“Jangan ngekang gue ya kalo kita udah nikah.”

“Sure.”

Pertemuan kedua keluarga tidak lagi secanggung yang pertama. Apalagi tatapan garang Rere kepada Jeffran sangat kentara kalau Rere mengibarkan bendera perang kepadanya.

Denis berdehem pelan, setelah semuanya selesai makan malam, mereka mengobrol asik terkecuali dua insan yang sekarang hanya duduk berhadapan itu.

“Jeffran, katanya beli apartemen ya?” tanya Maya seolah menyindir anaknya. Lantas, Rere langsung menengang.

“Iya tante.” jawab Jeffran seadanya.

Jeffran melirik Rere dengan wajah yang kikuk, lalu kembali melanjutkan memotong pudding vanila sebagai menu desert.

“Jeff, kamu tahu kan kenapa kita ngumpul dengan keluarga om Seno?” tanya Denis kepada anaknya.

Jeffran hanya menangguk. Sedangkan Rere semakin berfikiran yang tidak-tidak.

“Papa mau kamu menikah dengan Rere.”

Wtf. Rere langsung berdiri dari tempat duduknya dan sedikit berteriak. “Mi, pi, serius aku gak ada tidur sama om Jeffran. Please, kenapa harus nikah?”

Semua yang ada di meja makan itu menatap Rere heran, lalu tertawa bersama. Menertawai Rere dengan wajah paniknya.

“Gak sayang, duduk dulu.” ucap Nindi gemas. Rere menangguk dan kemudian duduk.

“Re, kamu menikah ya dengan Jeffran? Om takut kalau om meninggal belum bisa melihat anak om menikah.” kata Denis serius. “Om mohon ya Re, kamu mau kan menikah sama Jeffran? Om cuma gak mau Jeffran salah memilih istri, maka dari itu om memilih kamu.” jelas Denis lagi.

“Kenapa harus aku?” tanya Rere dengan suara yang bergetar. Jeffran sedikit terkejut, kemana Rere yang menyebalkan itu?

Denis tersenyum, mengisyaratkan agar Seno mau membujuk anaknya.

“Sayang, papa sama om Denis itu sudah sahabatan lama. Dan papa banyak berhutang sama keluarga om Denis.”

“Jadi aku dijual?” sarkas Rere. Cewek itu berdiri dari tempat duduknya dengan mata yang berkaca-kaca. “Maaf, aku mau pulang.” setelah mengatakan itu, Rere melangkahkan kakinya pergi.

Sebenarnya Jeffran kurang suka dengan suasana ramai seperti sekarang, dia tidak begitu menikmati pertemuan lingkaran setan bersama dengan ke tiga teman-temannya yang asik menuangkan minuman berakohol berjenis vodka. Ada Daksa yang sudah mulai teler namun masih saja minum.

“Mau kemana lo?” teriak Joni begitu melihat Jeffran berdiri dari tempat duduknya.

“Toilet.”

Setelah mengatakan itu, Jeffran segera beranjak ke toilet. Baru sampai lorong, samar-samar dia melihat cewek yang berusaha dilecehkan.

“Brengsek, gak usah nyentuh gue!” maki cewek tersebut sambil sempoyongan.

Karena si cewek sudah mabuk, cowok tadi memanfaatkan situasi untuk mendorong cewek itu ke tembok.

“ANJING!” makinya sekali lagi.

Jeffran melangkahkan kakinya maju setelah menonton pertunjukan itu. Sejujurnya, Jeffran sangat malas mencampuri urusan orang lain, tapi melihat pertunjukan seperti itu, rasanya dia ingin menghabisi sang lelaki bajingan itu. Langkahnya terhenti begitu mengetahui siapa cewek tersebut. Rere, anak teman papanya.

“Re!” panggil Jeffran, lalu menarik lengan Rere membawanya ke pelukannya.

“Siapa lo?” tanya cowok yang berusaha melecehkan Rere.

Jeffran menghembuskan napasnya kasar, ia melirik kedua lengan Rere yang memeluknya erat dengan mata yang tertutup. “Gue pacarnya.” jawab Jaffran kemudian melangkahkan kakinya keluar dari lorong toilet.

Sementara itu, Rere yang sudah mabuk hanya samar mendengar perkataan Jeffran sebelum dirinya ke alam mimpi.

Keluarga Renatha atau yang biasa dipanggil Rere itu akhirnya tiba di kediaman Denis Hartono. Karena keakraban keduanya—antara Denis dan Seno, Papi Rere, mereka langsung digiring ke ruang makan setelah basa-basi.

“Jeffran di mana, Nis?” tanya Seno memulai percakapan.

Nindi—mama Jeffran— menoleh tatkala mendengar suara derap kaki yang menuju meja makan, “Itu orangnya. Baru balik dari Amsterdam tadi siang.”

“Malam om, tante.” sapa Jeffran ramah, setelah mendudukkan dirinya.

Rere melirik sekilas lalu melanjutkan makannya.

“Tambah ganteng aja, lagi sibuk apa Jeff?” tanya Maya—mami Rere— sedikit basa-basi.

Jeffran tersenyum tipis dan menjawab, “Lagi ngurusin perusahan papa aja sih tan, yang dicabang Amsterdam sama Paris kemarin.”

“Keren banget.” puji Maya.

Setelah itu ada hening sesaat. “Ini anak kamu, Sen?” tanya Denis disela kegiatan mengunyahnya. Sengaja memecah keheningan.

“Iya, anak gadis yang dulu suka ngobokin aquarium kamu tuh sampai ikannya pada mati.”

Semua yang di meja makan itu tertawa kecuali Rere yang hanya bisa mendesis menahan malu. Bahkan Jeffran juga tertawa pelan.

“Jeff, kenalan dulu sama Rere.” kata Denis lalu melanjutkan, “Dulu kalian berdua yang ngobokin aquarium papa Jeff sampai ikannya pada mati.”

Kedua alis Rere menukik, pun dengan Jeffran mencoba untuk mengingat kejadian masa lalu mereka, namun hanya Rere yang tidak mengingatnya.

Makan malam berselang dengan suasana hangat.