Tengah asik menikmati alunan musik dan aroma kopi, Rere tak sengaja menatap ke luar jendela. Netranya terhenti pada sosok pria yang dikenalnya. Seakan mengenali punggung pria dengan balutan jaket kulitnya dan beanie yang menutupi rambutnya, meski menggunakan masker, Rere tahu betul kalau itu Jeffran, suaminya. Senyumnya tertahan ketika dari belakang ada wanita yang pernah ia temui tempo lalu di kantor, Kia.
Senyum Rere langsung luntur, napasnya tercekat tatkala Jeffran membukakan pintu mobil untuk Kia. Sekalipun Rere dan Jeffran sudah tidak pernah lagi menyindir topik tentang Kia dan ada hubungan apa dengan suaminya, Rere tidak akan menyangkal lagi kalau kedua sejoli itu masih mempunyai hubungan khusus, buktinya saja Jeffran keluar dari hotel bersama dengan Kia. Persetanan sama perkataan Jeffran tempo lalu kalau dirinya hanya mantan dengan Kia.
Rere tidak peduli beberapa orang di cafe memperhatikannya yang tiba-tiba menangis, lalu ia meninggalkan sejumlah beberapa lembar uang ratusan di meja kasir dan pergi begitu saja. Kali ini Rere harus membuntuti kemana mobil Jeffran itu akan pergi.
Dengan tangan yang bergetar, dan air mata yang mengalir, Rere terus menancapkan gasnya, mengemudikan mobilnya dikecapatan rata-rata agar tidak kehilangan jejak.
“Brengsek, ngapain sih lo nangis?” tanya Rere pada dirinya sendiri dengan gumaman. “Lo diem, Re. Ngapain lo nangisin cowok brengsek sih?! Lo jangan lemah, bilang kalau lo gak suka sama dia, Renatha!” ujarnya sedikit berteriak.
Hampir memakan waktu satu jam setengah, mobil yang dikendarai Jeffran akhirnya berhenti di bandara. Rere yang sedari tadi membuntutinya dengan penuh kesetanan sampai tidak sadar kalau dirinya benar-benar mengikuti Jeffran sampai ke bandara Ir. Soekarno Hatta.
Langsung saja, ketika Jeffran membuka mobilnya dan berjalan masuk ke dalam dengan Kia, Rere melesat mengikuti mereka berdua. Pandangan Rere terus kabur karena air matanya, penampilan yang tadinya rapi, kini mulai acak-acakkan. Heels yang dipakainya patah, membuat kakinya lecet dan perih.
Rere menghembuskan napas panjang sebelum berteriak nyaring, “JEFFRAN ARIKALA!” bukan hanya Jeffran, bahkan hampir semua yang ada di sekitar memperhatikan Rere. Termasuk Kia yang menoleh menatapnya kaget.
Jeffran membelalakkan matanya, tidak menduga jika orang yang berdiri dengan kacau dibelakang adalah istrinya. Jeffran membuka masker dan berjalan mendekatinya, memeluknya sebentar karena Rere mendorong tubuhnya.
“Re, kamu—”
PLAK!
Semua orang di sana terkejut, apalagi Jeffran. Pipinya kirinya langsung memerah.
“Harusnya dari awal aku gak percaya sama kamu!” kata Rere dengan penuh penekanan setelah menampar Jeffran.
“Kenapa kamu bohongin aku? Kenapa kamu gak jujur kalau kamu lagi di Indonesia?” tanya Rere masih dengan tangisannya. “Kamu takut kalau kelakuan busuk kamu ketahuan? Kamu takut kalau kamu ketahuan selingkuh sama aku?” tuntut Rere, sedangkan Jeffran hanya menatapnya. Melihat Rere menangis membuat hatinya serasa teriris. Apalagi pergelangan kaki Rere yang lecet dan heelsnya patah.
Helaan napas dalam, “Selingkuh apa sih, Re?” tanya Jeffran lembut.
“Kamu kira aku gak tau kalau kamu habis tidur sama Kia? Aku lihat sendiri Jeff, kamu keluar dari hotel pagi ini bareng Kia. Aku lihat.” jawab Rere dengan suara yang bergetar.
Sedangkan orang yang berada di sana menyimak perkelahian drama suami istri itu. Tak sedikit dari mereka juga mengabadikan momen ini dengan smartphone.
Rere memberanikan dirinya untuk menatap Jeffran. Mata pria itu lebih sendu daripada biasanya.
“Dengar, saya gak pernah sekalipun ada niatan selingkuh dari kamu. Kia dia dan saya akan ke Singapore, jadi sekalian saya suruh Kia untuk berangkat bersama dan menjemput saya di hotel. Dan saya meminta tolong ke Kia untuk menjadi dokter yang menangani papa karena masa cuti Kia sudah habis di Indonesia. Kia dokter bedah, jadi saya meminta Kia untuk menangani pap—” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, handphone Jeffran bergetar. “Sebentar, saya menerima telfon dulu.”
Jeffran menjauh sedikit dari Rere, gerak-geriknya nampak gusar. Dan sedektik kemudian, ia menarik napas dalam, menyugar rambutnya frustasi dan kembali mendekati Rere dengan raut wajah yang panik juga sendu.
“Kamu sudah marahnya? Atau masih mau marah? Kalau masih mau marah, nanti dulu ya, Re, papa ... papa meninggal.” ucap Jeffran lemah, suaranya hampir tidak terdengar.
Deg. Hati Rere seakan tertancap bebatuan karang. Rere ingin merutuki dirinya, betapa jahatnya ia karena sudah menampar dan melampiaskan semua kemarahannya pada Jeffran.
Rere memeluk Jeffran, memeluknya erat sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Jeffran dan menangis sejatinya. Bibirnya tak berhenti mengucap beribu kata maaf kepada Jeffran. Jeffran membalas pelukan Rere dan mengelus punggung perempuan itu pelan dan sesekali menyeka air matanya tanpa suara. Dalam kondisi yang seperti ini, seharusnya Jeffran yang ditenangkan bukannya malah menenangkan, tapi keadaan Rere yang menangis sampai tubuhnya bergetar membuatnya lebih iba daripada melihat dirinya sendiri.
Hampir beberapa menit mereka berdiri, Jeffran kembali membuka suara. “Duduk dulu, ya.”
Setelah semuanya mereda, dan beberapa orang bubar, karena merasa drama ini sudah tidak lagi semenarik tadi.
“Kenapa kamu nangis? Kan yang meninggal papa saya, harusnya yang nangis sambil cegukan itu saya.” tanya Jeffran, berusaha setenang mungkin.
Rere masih diam, dalam duduknya, ia memeluk Jeffran dan membenamkan wajahnya dipelukan Jeffran. Mata Jeffran tak sengaja menatap pergelangan kaki Rere yang lecet.
“Mau kemana?” tanya Rere heran saat Jeffran melepaskan pelukannya.
“Mau belikan kamu sandal. Di sini aja ya?”
“Iya.” balas Rere.
Jeffran beralih menatap Kia yang sedari tadi diam dan tidak diharukannya sama sekali itu. “Kia, titip Rere sebentar.” Kata Jeffran dan Kia hanya mengacungkan jempol sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Jeffran kembali dengan membawa sandal bulu dan satu plaster luka.
Jeffran berjongkok, memakaikan Rere sandal dan plaster berbentuk hati. “Lain kali jangan sampai terluka.” kata Jeffran setelah memakaikan plaster.
Bertepatan dengan itu, suara informan menginformasikan jika pesawat yang akan ditumpangi Jeffran akan segera take off 15 menit lagi.
“Aku mau ikut ke Singapore ....” cicit Rere pelan.
“Kamu bawa passport?” tanya Jeffran, sedangkan Rere menggeleng lemah.
“Kamu pulang aja, ya? Lagian besok juga saya sudah pulang sama jenazah papa.”
Rere melirik Kia, dan Jeffran tahu maksudnya. Jeffran berdiri lalu membuka mulutnya, “Kia harus tetap ikut, dia orang dalam yang akan mempercepat proses administrasi agar papa cepat dipulangkan. Boleh ya?”
Mendengar itu, Rere lantas menangangguk. Jeffran tersenyum dan mengacak rambut Rere. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Rere yang masih duduk di tempatnya.
“Jam tangan yang kamu kasih saya pakai, terima kasih.” katanya tulus, lalu mendekat dan mengecup dahi Rere agak lama. Kemudian beralih membisikkan sesuatu tepat di telinga Rere. “Saya cinta sama kamu.”
Rere langsung bersemu malu. Ia kemudian berdiri, dan memeluk Jeffran.
“Re, saya flight dulu, nanti sampai Singapore saya kabarin. Kamu hati-hati pulangnya, ya? Maaf sudah buat kamu nangis.”
Dengan sedikit berjinjit, akhirnya Rere bisa meraih pipi Jeffran dan mengecupnya. “Maaf udah nampar kamu. Hati-hati, titip salam ke mama, maaf Rere gak bisa datang.”