pirorpeer

Tiba di kediaman Johnny, Jeffran turun dari mobil dengan menggendong Skala. Mereka berdua disambut oleh Heksa yang tadinya bermain sepeda di halaman depan. Heksa lantas masuk dan memanggil Johnny, mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya.

Skala turun dari gendongan Jeffran dan dia langsung berlari menghampiri Heksa yang masih di luar sambil menggayuh sepedanya.

“Gantian dong.” kata Skala pelan, dari tadi dia hanya memperhatikan Heksa yang asik bersepeda.

Heksa turun dari sepedanya, dia hanya menangguk dan memberikan giliran Skala untuk bermain.

Hampir memakan waktu beberapa menit, sampai akhirnya keduanya pun masuk. Skala yang sudah dipenuhi keringat pun menghampiri Jeffran yang masih mengobrol urusan bapak-bapak. Jeffran memangku Skala dan dengan telaten mengelap keringat anaknya dengan tisu.

“Papi, mau minum.” pinta Skala sambil menunjuk-nunjuk minuman Jeffran.

Jeffran tak langsung memberikan anaknya minum, karena yang diminumnya berupa soda. Refleks Johnny menanggil Heksa, “Kak Heksa, itu Skala ambilkan susu cokelat di kulkas.”

Heksa berlari ke arah dapur lalu kembali dengan dua kotak susu cokelat dingin dan diberikan ke Skala satu, lalu diminumnya satu.

“Makasih.” ujar Skaal sambil tersenyum manis.

“Udah gede aja ini Skala. Dapat ringking berapa kemarin?” tanya Johnny, niatnya sedikit menyindir Heksa, namun anaknya itu terlampau bodo amat dan hanya bermain mobil-mobilannya.

“Satu, Om.” jawab Skala setelah menyedot susu cokelatnya sampai habis.

“Widih, pinter banget.” puji Johnny. “Kak, coba tuh dengerin Skala aja dapat peringkat satu.” sambung Johnny, Heksa menoleh.

“Masih banyak aku, Pa. Aku kan dapat ringking sembilan. Hebat kan?” dengan percaya dirinya Heksa mengatakan itu sampai membuat Jeffran tertawa.

Johnny juga ikut tertawa. “Skala lo kasih makan apaan sih? Bisa pinter gitu.”

Jeffran berdehem sebentar setelah menertawakan kelucuan Heksa. “Iyalah pinter, bokapnya aja pinter.” balasnya sedikit sombong.

Setelah mengobrol hampir cukup lama, Jeffran akhirnya pamit pulang karena Skala juga sudah terlihat sangat kelelahan.

Kicauan burung terdengar merdu. Ada kalanya kicauan itu seakan menerjemahkan bahwa hari esok telah tiba dengan segala aktivitas yang baru akan dimulai.

Jeffran membuka pintu rumah sambil menggendong putra semata wayangnya yang kini berusia lima tahun.

Skala Jingga sangat dimanja Jeffran, lihat saja setiap paginya, pria itu tidak pernah absen dari menggendong sang buah hati. Baik saat akan kerja pun, Jeffran menyempatkan untuk menggendong Skala walaupun sang anak semakin besar dan bertambah berat.

“Mau masak apa?” tanya Jeffran masih menggendong Skala.

Rere yang baru selesai berbelanja sayuran di depan rumah langsung mencium pipi Skala gemas. Sejak melahirkan Skala, Rere semakin berbeda. Tidak lagi manja, suka kelayapan atau apapun, yang ada sekarang ia bagian mengurus anaknya juga suaminya dengan penuh kasih sayang, seperti memasak dan menyiapkan makan. Selayaknya seorang ibu rumah tangga pada umumnya.

“Kang sayurnya nggak bawa ayam, kesiangan katanya. Kamu suka cumi-cumi, kan?”

Jeffran menangguk tanpa ragu. Kadang, hal sekecil itu masih ditanyakan Rere. Padahal ia sudah hampir tujuh tahun berumah tangga dengan Jefftan tapi Rere masih suka menyakan hal-hal seperti itu.

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.

“Pi, Kala mau pipis.” kata Skala sambil mengucek matanya pelan.

“Sekalian mandi ya, sayang? Ayo Papi mandiin.” dengan telaten, Jeffran melepaskan pakaian putranya.

Jeffran menggendong Skala di atas pundaknya. Anak kecil itu hanya tertawa riang sambil memegang kepala Jeffran sebagai pegangan.

“Mas, cuminya dikrispi atau ditumis?” teriak Rere dari arah dapur.

“Tepungin aja, sayang—Kala! Papi basah, nih!”

Skala yang jahil masih memercikkan air ke Jeffran hingga setengah bajunya basah. Karena sudah terlanjur basah, Jeffran membuka bajunya dan memilih bertelanjang dada sambil memandikan anaknya.

Selesai memandikan Skala, Jeffran pun memakaikan baju untuk Skala. Anaknya benar-benar berbibit unggul seperti dirinya dan istrinya.

“Mas, sini makan!” teriak Rere lagi dari arah dapur.

“Wah!” Jeffran selalu kagum dengan Rere. Masakan istrinya selalu menjadi favorite setelah masakan mamanya. Tapi sekarang sepertinya seimbang.

Rere menyuapi Skala dengan cumi-cumi krispi dan sayur sop.

“Enak?” tanya Jeffran seraya mengelap butiran nasi yang tertinggal di pipi anaknya.

“Enak!” seru Skala.

“Mami jago masak, ya?”

Skala langsung mengangguk, kemudian melahap lagi suapan terakhirnya. Bagi Rere, anak lebih utama, maka dari itu dia mendahulukan Skala daripada dirinya.

Kecerdasan Skala seperti Jeffran, dan kecerewetannya seperti Rere, paket lengkap.

Keluarga kecilnya sangat bahagia, apalagi sejak datangnya Skala ke dunia. Seperti anugrah terindah. Skala memang permata hati, bukan hanya untuk mereka berdua, namun untuk beberapa orang. Bahkan tetangga pun gemas melihat Skala yang kadang bermain di luar rumah.

Suara lantai yang dingin dan sepatu Jeffran beradu menjadi satu. Pria itu baru saja turun dari mobilnya dengan wajah yang pucat fasih, dadanya bergerumuh. Ia berlari kecil hingga sampai ruangan yang dimaksud oleh Jevano.

Di sana ada Rere yang menangis, menunggu Jeffran yang baru juga muncul di hadapannya. Jeffran duduk di kursi samping brankar, tangannya menggenggam jemari Rere dan mengecupnya. Berkali-kali pria itu membisikkan kata-kata semangat, sesekali menyeka peluh di dahi istrinya.

“Aku mau normal, mas. Aku gak mau caesar.” katanya lemah, sambil menangis.

Sedangkan Jeffran, pria itu lebih realistis setelah mendengar perkataan dari dokter kalau lahiran normal tidak memungkinkan karena Rere sudah kehilangan banyak darah. Jika biasanya Jeffran akan menuruti semua perkataan wanitanya, tidak dengan kali ini. Pria itu tidak mau mengambil resiko yang berbahaya untuk anak dan istrinya, maka dari itu dia tidak mengizinkan Rere untuk melahirkan secara normal.

“Nggak, kamu udah kehabisan banyak darah sayang. Caesar aja ya?” tawar Jeffran, jemarinya menyeka air mata Rere yang berlinang.

Lama tidak membalas, akhirnya Rere menangguk lemah. Dan saat itu, ia tidak lagi merasakan apa yang terjadi pada dirinya ketika jarum suntik itu menusuk kulitnya, memberikan bius yang kuat untuknya.

Tangan Jeffaran tidak berhenti menggenggam tangan kanan Rere, sambil berbisik di telinga perempuan itu. Membisikkan serangkaian kata bagaimana dia jatuh cinta dengan Rere hingga begitu dalam.

Hampir memakan waktu satu jam lamanya, akhirnya tangisan bayi itu pecah. Tangisannya nyaring, mekekakan telinga, dan seakan merampas keheningan.

Jeffran dengan wajahnya yang kacau menangis bahagia, begitupun Rere. Jeffran mengecup telapak tangan Rere yang masih berada di dalam genggamannya, lalu mengecup dahinya yang masih dengan keadaan menangis.

“Terima kasih banyak, sayang. Makasih kamu sudah lahirkan anak aku, makasih karena kamu udah bersedia menjadi istriku.” bisiknya lembut tepat di telinga Rere.

Kebahagiaan yang sesungguhnya ia rasakan. Apalagi saat ia melihat anak pertamanya yang benar-benar ganteng. Memang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, visual Jeffran junior sangat sempurna, seperti foto copy-an antara dirinya dan Rere.

Dengan berhati-hati, Jeffran mencoba menggendong anaknya. Bayi mungil itu sangat tampan seperti dirinya.

“Skala, namanya Skala Jingga.” ucap Jeffran pelan, sambil menatap anaknya dalam-dalam.

Ada belasan nama yang sudah dihafalkan oleh Jeffran sebenarnya, namun mendadak ia melupakan semua nama itu dan tanpa sadar ia mengucapkan nama itu.

Skala yang berarti mempesona, dan penuh karisma. Lalu Jingga adalah keadaan langit yang sekarang menyemburatkan sinarnya yang oranye seakan memberi ucapan 'selamat datang' kepada bayi mungil itu.

—FIN—

Hal pertama yang dilihat Jeffran ketika baru turun dari anak tangga adalah melihat Rere yang sedang minum vitamin. Senyumnya merekah ketika ia melirik perut istrinya yang sedikit membuncit itu. Kebahagiaannya tengah meluap-luap.

“Loh, mas kok udah rapi? Udah bisa kerja?” Rere sedikit kaget tadinya saat dipeluk Jeffran tiba-tiba dari belakang dan melihat suaminya sudah rapi dengan pakaian kantornya.

Jeffran tanpa bersuara dia hanya menangguk, mencium dalam tengkuk Rere. Kemudian ia membalikkan bandan Rere dan mencium bibirnya sekilas, sebagai tanda morning kiss.

“Susunya udah di minum?” tanya Jeffran dan dibalas gelengan oleh Rere.

“Kan belum sarapan.” kata Rere sambil cengengesan, membuat Jeffran kembali gemas dan mengecup pipi Rere.

“Aku kira kamu belum bisa bangun, soalnya tadi lagi aku cek kamu demamnya masih tinggi. Jadi aku udah siapin makan sih, cuma belum aku bawa ke kamar karen—” belum sempat Rere melanjutkan omongannya, Jeffran sudah terlebih dahulu mencium bibir Rere. Mengecupnya berkali-kali sampai perempuan itu protes.

Akhirnya mereka makan bersama. Dan ketika sudah selesai makan, inilah saatnya arti kata “bantuan mas Jeffran” itu dimulai.

Jeffran terus memaksa Rere agar meminum susu hamilnya tapi perempuan itu selalu menolak, sampai Jeffran jengah dan menghimpit tubuh istrinya di kursi agar tidak kabur.

“Kok kamu minumnya banyak banget?” protes Rere begitu mengetahui Jeffran meminum susu hamilnya hampir setengah gelas dan setangah gelasnya lagi adalah jatahnya.

“Enak.” jawab Jeffran. Lalu kemudian ia meminum lagi, membuat Rere memelotot. Apalagi saat ia akan protes, Jeffran lebih dahulu meraih bibirnya, menciumnya. Sebenarnya tidak menciumnya sih, Jeffran hanya perlu memindahkan susu itu dari mulutnya ke mulut Rere saja.

Jeffran meringis ketika punggungnya dicubit oleh Rere. “Gimana? Enak kan?” tanyanya jahil.

Rere tak menjawab dan hanya mendengus kesal.

Tengah asik menikmati alunan musik dan aroma kopi, Rere tak sengaja menatap ke luar jendela. Netranya terhenti pada sosok pria yang dikenalnya. Seakan mengenali punggung pria dengan balutan jaket kulitnya dan beanie yang menutupi rambutnya, meski menggunakan masker, Rere tahu betul kalau itu Jeffran, suaminya. Senyumnya tertahan ketika dari belakang ada wanita yang pernah ia temui tempo lalu di kantor, Kia.

Senyum Rere langsung luntur, napasnya tercekat tatkala Jeffran membukakan pintu mobil untuk Kia. Sekalipun Rere dan Jeffran sudah tidak pernah lagi menyindir topik tentang Kia dan ada hubungan apa dengan suaminya, Rere tidak akan menyangkal lagi kalau kedua sejoli itu masih mempunyai hubungan khusus, buktinya saja Jeffran keluar dari hotel bersama dengan Kia. Persetanan sama perkataan Jeffran tempo lalu kalau dirinya hanya mantan dengan Kia.

Rere tidak peduli beberapa orang di cafe memperhatikannya yang tiba-tiba menangis, lalu ia meninggalkan sejumlah beberapa lembar uang ratusan di meja kasir dan pergi begitu saja. Kali ini Rere harus membuntuti kemana mobil Jeffran itu akan pergi.

Dengan tangan yang bergetar, dan air mata yang mengalir, Rere terus menancapkan gasnya, mengemudikan mobilnya dikecapatan rata-rata agar tidak kehilangan jejak.

“Brengsek, ngapain sih lo nangis?” tanya Rere pada dirinya sendiri dengan gumaman. “Lo diem, Re. Ngapain lo nangisin cowok brengsek sih?! Lo jangan lemah, bilang kalau lo gak suka sama dia, Renatha!” ujarnya sedikit berteriak.

Hampir memakan waktu satu jam setengah, mobil yang dikendarai Jeffran akhirnya berhenti di bandara. Rere yang sedari tadi membuntutinya dengan penuh kesetanan sampai tidak sadar kalau dirinya benar-benar mengikuti Jeffran sampai ke bandara Ir. Soekarno Hatta.

Langsung saja, ketika Jeffran membuka mobilnya dan berjalan masuk ke dalam dengan Kia, Rere melesat mengikuti mereka berdua. Pandangan Rere terus kabur karena air matanya, penampilan yang tadinya rapi, kini mulai acak-acakkan. Heels yang dipakainya patah, membuat kakinya lecet dan perih.

Rere menghembuskan napas panjang sebelum berteriak nyaring, “JEFFRAN ARIKALA!” bukan hanya Jeffran, bahkan hampir semua yang ada di sekitar memperhatikan Rere. Termasuk Kia yang menoleh menatapnya kaget.

Jeffran membelalakkan matanya, tidak menduga jika orang yang berdiri dengan kacau dibelakang adalah istrinya. Jeffran membuka masker dan berjalan mendekatinya, memeluknya sebentar karena Rere mendorong tubuhnya.

“Re, kamu—”

PLAK!

Semua orang di sana terkejut, apalagi Jeffran. Pipinya kirinya langsung memerah.

“Harusnya dari awal aku gak percaya sama kamu!” kata Rere dengan penuh penekanan setelah menampar Jeffran.

“Kenapa kamu bohongin aku? Kenapa kamu gak jujur kalau kamu lagi di Indonesia?” tanya Rere masih dengan tangisannya. “Kamu takut kalau kelakuan busuk kamu ketahuan? Kamu takut kalau kamu ketahuan selingkuh sama aku?” tuntut Rere, sedangkan Jeffran hanya menatapnya. Melihat Rere menangis membuat hatinya serasa teriris. Apalagi pergelangan kaki Rere yang lecet dan heelsnya patah.

Helaan napas dalam, “Selingkuh apa sih, Re?” tanya Jeffran lembut.

“Kamu kira aku gak tau kalau kamu habis tidur sama Kia? Aku lihat sendiri Jeff, kamu keluar dari hotel pagi ini bareng Kia. Aku lihat.” jawab Rere dengan suara yang bergetar.

Sedangkan orang yang berada di sana menyimak perkelahian drama suami istri itu. Tak sedikit dari mereka juga mengabadikan momen ini dengan smartphone.

Rere memberanikan dirinya untuk menatap Jeffran. Mata pria itu lebih sendu daripada biasanya.

“Dengar, saya gak pernah sekalipun ada niatan selingkuh dari kamu. Kia dia dan saya akan ke Singapore, jadi sekalian saya suruh Kia untuk berangkat bersama dan menjemput saya di hotel. Dan saya meminta tolong ke Kia untuk menjadi dokter yang menangani papa karena masa cuti Kia sudah habis di Indonesia. Kia dokter bedah, jadi saya meminta Kia untuk menangani pap—” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, handphone Jeffran bergetar. “Sebentar, saya menerima telfon dulu.”

Jeffran menjauh sedikit dari Rere, gerak-geriknya nampak gusar. Dan sedektik kemudian, ia menarik napas dalam, menyugar rambutnya frustasi dan kembali mendekati Rere dengan raut wajah yang panik juga sendu.

“Kamu sudah marahnya? Atau masih mau marah? Kalau masih mau marah, nanti dulu ya, Re, papa ... papa meninggal.” ucap Jeffran lemah, suaranya hampir tidak terdengar.

Deg. Hati Rere seakan tertancap bebatuan karang. Rere ingin merutuki dirinya, betapa jahatnya ia karena sudah menampar dan melampiaskan semua kemarahannya pada Jeffran.

Rere memeluk Jeffran, memeluknya erat sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Jeffran dan menangis sejatinya. Bibirnya tak berhenti mengucap beribu kata maaf kepada Jeffran. Jeffran membalas pelukan Rere dan mengelus punggung perempuan itu pelan dan sesekali menyeka air matanya tanpa suara. Dalam kondisi yang seperti ini, seharusnya Jeffran yang ditenangkan bukannya malah menenangkan, tapi keadaan Rere yang menangis sampai tubuhnya bergetar membuatnya lebih iba daripada melihat dirinya sendiri.

Hampir beberapa menit mereka berdiri, Jeffran kembali membuka suara. “Duduk dulu, ya.”

Setelah semuanya mereda, dan beberapa orang bubar, karena merasa drama ini sudah tidak lagi semenarik tadi.

“Kenapa kamu nangis? Kan yang meninggal papa saya, harusnya yang nangis sambil cegukan itu saya.” tanya Jeffran, berusaha setenang mungkin.

Rere masih diam, dalam duduknya, ia memeluk Jeffran dan membenamkan wajahnya dipelukan Jeffran. Mata Jeffran tak sengaja menatap pergelangan kaki Rere yang lecet.

“Mau kemana?” tanya Rere heran saat Jeffran melepaskan pelukannya.

“Mau belikan kamu sandal. Di sini aja ya?”

“Iya.” balas Rere.

Jeffran beralih menatap Kia yang sedari tadi diam dan tidak diharukannya sama sekali itu. “Kia, titip Rere sebentar.” Kata Jeffran dan Kia hanya mengacungkan jempol sambil tersenyum.

Beberapa menit kemudian, Jeffran kembali dengan membawa sandal bulu dan satu plaster luka.

Jeffran berjongkok, memakaikan Rere sandal dan plaster berbentuk hati. “Lain kali jangan sampai terluka.” kata Jeffran setelah memakaikan plaster.

Bertepatan dengan itu, suara informan menginformasikan jika pesawat yang akan ditumpangi Jeffran akan segera take off 15 menit lagi.

“Aku mau ikut ke Singapore ....” cicit Rere pelan.

“Kamu bawa passport?” tanya Jeffran, sedangkan Rere menggeleng lemah.

“Kamu pulang aja, ya? Lagian besok juga saya sudah pulang sama jenazah papa.”

Rere melirik Kia, dan Jeffran tahu maksudnya. Jeffran berdiri lalu membuka mulutnya, “Kia harus tetap ikut, dia orang dalam yang akan mempercepat proses administrasi agar papa cepat dipulangkan. Boleh ya?”

Mendengar itu, Rere lantas menangangguk. Jeffran tersenyum dan mengacak rambut Rere. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Rere yang masih duduk di tempatnya.

“Jam tangan yang kamu kasih saya pakai, terima kasih.” katanya tulus, lalu mendekat dan mengecup dahi Rere agak lama. Kemudian beralih membisikkan sesuatu tepat di telinga Rere. “Saya cinta sama kamu.”

Rere langsung bersemu malu. Ia kemudian berdiri, dan memeluk Jeffran.

“Re, saya flight dulu, nanti sampai Singapore saya kabarin. Kamu hati-hati pulangnya, ya? Maaf sudah buat kamu nangis.”

Dengan sedikit berjinjit, akhirnya Rere bisa meraih pipi Jeffran dan mengecupnya. “Maaf udah nampar kamu. Hati-hati, titip salam ke mama, maaf Rere gak bisa datang.”

Semua mata tertuju pada perempuan cantik yang tengah berjalan dan menatap fokus ke depan, tanpa memperdulikan beberapa karyawan yang bergosip ria tentang dirinya. Penampilan Rere yang menonjol dengan rok pendek span dan blouse berdada rendah juga kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuat hampir semua orang menatapnya tanpa berkedip.

Sampai saat Rere ke meja resepsionis untuk menanyakan ruangan Jeffran ada di lantai berapa, salah satu karyawan menatapnya judes.

“Ruang kerja Pak Jeffran di lantai berapa, ya?” tanya Rere sopan.

“Maaf mbak, Pak Jeffran lagi di luar negeri jadi tidak bisa ditemui.” ucap karyawan yang lainnya dengan senyuman paksa.

'Ya gue juga tau kali, orang yang nyiapin keperluan dia ke luar negeri gue.' ucap Rere dalam hati.

“Saya mau ketemu sama Pak Johnny Orlando.” balas Rere datar.

Dengan sedikit kesal, karyawan yang dari tadi melihat Rere dengan wajah julidnya itu ikut menyahut. “Iya mbak, tapi Pak Johnny-nya juga lagi sibuk dan ada rapat dadakan. Kalau belum ada janji mbaknya tidak bisa langsung ketemu.”

Rere menghela napasnya. Ia melepaskan kaca matanya dan menyimpannya ke dalam tas dior yang baru saja dibelikan Jeffran untuknya.

“Mbak, Pak Jeffran-nya ada?” baru saja Rere akan membuka suaranya, tapi ia urungkan karena tiba-tiba muncul perempuan anggun ke meja resepsionis dan menanyakan keberadaan Jeffran.

“Pak Jeffran lagi di luar negeri. Oh, mbak ini mbak Kia, kan?”

Mendengar itu, Rere langsung menoleh. Matanya langsung menjelajahi setiap inci badan Kia yang menurutnya biasa saja dan lebih bagus badannya.

Kia tersenyum ramah dan menangguk. “Iya, kalau Pak Johnny Orlando ada?”

Karyawan tadi membalas senyum Kia, lalu mejawab dengan ramah. Tidak seperti saat berbicara dengan Rere yang terdengar lebih ketus. “Ada mbak, mbak langsung aja ke ruangannya.”

“Mbak, maksudnya apa membedakan saya dengan orang itu?” ketus Rere langsung. Emosinya langsung membuncah saat ada deskriminasi pada dirinya.

“Tentu saja berbeda, mbak. Hampir semua karyawan mengenal mbak Kia karena mbak Kia pacaran Pak Jeffran.” jelas karyawan tersebut yang juga kesal pada Rere.

'Brengsek.' maki Rere dalam hati. Ia memejamkan matanya menahan amarah.

Sedangkan Kia hanya tersenyum manis tanpa menanggapi perkataan karyawan yang menyinggung hubungannya dengan Jeffran. “Saya permisi ya, mau ketemu Johnny dulu.” pamit Kia kepada beberapa karyawan di sana.

Salah satu karyawan tersenyum dan mempersilakan Kia. “Silakan mbak Kia,” lalu beralih menatap Rere dengan tatapan judesnya. “Mbak, kalau masih ngotot ketemu Pak Johnny tanpa ada janji terlebih dahulu, maka maaf saya akan panggilkan satpam.”

Demi Tuhan, Rere rasanya ingin mengacak-ngacak seluruh kantor Jeffran. “Lo pikir lo siapa berani panggil satpam?” teriak Rere, membuat beberapa orang yang tadinya berjalan lalu menghentikan langkahnya demi melihat Rere yang sedang meluapkan amarahnya.

Seluruh karyawan bagian resepsionis langsung panik mendengar teriakan Rere yang cukup nyaring. Lantas salah satu dari mereka langsung menelfon satpam agar segera menyeret Rere keluar dari kantor.

Tak lama, dua satpam langsung berlari ke arah Rere dan menarik kedua tangan Rere secara paksa untuk membawanya keluar kantor.

“Jangan pegang-pegang, gue bisa jalan sendiri!” bentak Rere murka. Mendengar itu kedua satpam melepaskan tangan mereka.

Sambil menahan tangisnya agar tidak pecah karena malu dan sakit dibagian kedua tangannya, Rere langsung mengambil handphone-nya dan mengirim imessage pada Jeffran.

'Pecat seluruh karyawan resepsionis dan dua satpam yang lagi shift sore ini.'

—Sensitive Topic

Saat di dapur, Rere sengaja diam dan tidak membuka topik pembicaraan terlebih dahulu karena masih terlalu takut kalau saja maminya akan mengungkit masalah pisah ranjangnya.

“Jeffran tuh ganteng, baik banget, dan sayang sama orang tua. Sayang banget Re kalau kamu sakitin.” tiba-tiba saja maminya membuka topik mengenai Jeffran.

Rere yang memotong wortel otomatis menghentikan aktifitasnya sambil mendengar celoteh lanjutan dari maminya.

“Lagian kenapa sih kamu kayak gitu ke Jeffran? Dia tuh suami kamu. Harusnya disayang-sayang, dimanjain gitu biar betah sama kamu. Bukannya malah pisah ranjang.”

Maya—mami Rere— mulai meniriskan ayam setelah ia goreng, lalu duduk di depan Rere, membantu anaknya memotong sayuran untuk sayur sop.

“Emang Jeffran bau sampai kamu gak mau tidur bareng sekamar sama dia?” tanya Maya, berusaha memancing Rere agar bercerita pada inti masalah.

Helaan napas Rere terdengar lumayan keras sebelum menjawab pertanyaan Maya. “Bukan mi, dia itu wangi banget bahkan...”

“Tapi?” Maya memotong ucapan Rere, sedikit gemas juga dengan anak semata wayangnya ini.

“Kan Rere masih kuliah dan belum skripsian, ya mami pasti taulah maksud aku.” lanjut Rere sedikit blushing.

Maya menatap netra anaknya dalam, “Re, mami tahu itu. Kan bisa dicegah dulu pakai kontrasepsi atau gak kamu minum pil KB, kasihan juga tuh masa Jeffran harus nahan-nahan padahal punya istri?”

Perkataan maminya langsung membuat Rere menundukkan kepalanya karena malu. Topik pembicaraan mereka benar-benar sensitif kali ini. Melihat wajah Rere yang berubah, sebenarnya Maya gemas sekali pada Rere. Tapi bagaimana pun, permasalahan ini harus diusut sampai tuntas.

“Atau jangan-jangan kamu belum pernah kasih Jeffran jatah, Re?”

Rere mendengus kasar, Maya terlalu buka-bukaan kartu. “Mami, apaan sih?!”

Lantas Maya cekikikan menahan tawanya. “Tuh kan, pasti belum. Hati-hati ya Re, jangan diterusin. Mami takutnya Jeffran jajan di luar, kan bahaya.” goda Maya.

“Ya gimana mau ngelakauin 'itu' kalau aku aja belum suka sama dia?”

“Masa sih? Tapi Jeffran kayaknya udah suka banget sama kamu deh.” ucap Maya serius.

Rere akhirnya berdiri dari tempat duduknya karena tahu maminya pasti akan menggodanya habis-habisan. “Dih, sok tau.” celetuknya kemudian.

Maya melotot, “Sok tau apanya orang bener kok. Dilihat dari cara Jeffran natap kamu tuh kelihatan banget Re!”

'Iya keliahatan ngibulnya. Orang dia semalem habis telfonan sama si Kia-Kia itu.' kata Rere dalam hati.

Tanpa menanggapi omongan Maya lebih lanjut, Rere pun meninggalkan maminya sendirian di dapur.

Setelah membalas imessage Kia, Rere langsung meletakkan handphone Jeffran di atas nakas dengan wajahnya yang kesal. Lalu tak lama kemudian, Jeffran baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan ke badannya dan rambutnya yang basah itu mampu membuat napas Rere tercekat keseperkian detik.

He's so fucking hot. Rere berani bersumpah akan hal itu. Apalagi dada bidang Jeffran yang terbuka tanpa tertutup sehelai kain pun.

Jeffran berjalan cuek, tanpa memperdulikan Rere yang kini telah membuang muka karena ketahuan menatapnya.

“Tuh, bajunya udah aku siapin.” kata Rere sedikit canggung.

Jeffran hanya mengangguk dan mengambil bajunya. “Kok kamu punya baju cowok?”

“Punya orang dulu, tapi masih bagus kok.”

Lalu kemudian Jeffran kembali menanggukkan kepalanya mengerti dengan maksud Rere. “Jadi kamu kasih saya baju bekas mantan kamu?”

“Enak aja bekas, masih baru tuh!” ucap Rere kesal. Dan Jeffran hanya tertawa pelan. “Lagian pake aja kenapa sih!” lanjutnya.

Sebenarnya itu kaos hitam milik Jevano, dulunya akan diberikan pada cowok bermata bulan sabit itu, namun lebih duluan mereka putus jadi Rere simpan saja bajunya.

“Om, jangan ganti di sini!” teriak Rere panik begitu Jeffran melepaskan handuk yang melilit tubuhnya sedari tadi.

“Apa sih, Re? Saya pakai celana. Mesum banget pikiran kamu.” ejek Jeffran setelah berganti pakaian, terlihat cocok dan pas di badannya.

“NGGAK YA! ENAK AJA!” elak Rere yang sudah blushing, menahan rasa malunya.

Puas menjahili Rere, Jeffran duduk di tepian kasur dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Sedangkan Rere, dia menjemur handuk yang dipakai Jeffran di balkon kamar.

Rere yang tadinya mau mengambil handphone di atas nakas, langsung gemas melihat Jeffran yang masih mengeringkan rambutnya lantas ia mengambil handuk kecil dari tangan Jeffran dan mencoba membantu mengeringkan rambut pria itu. Jeffran hanya menurut, membuat Rere gemas dengab sendirinya.

“Apa?” tanya Rere pelan, bahkan sedikit mencicit.

Jeffran menuntun Rere ke pangkuannya. “Biar gak capek berdiri.” bisik Jeffran tepat di telinga Rere.

Dengan pelan Rere masih mengeringkan rambut Jeffran, sedangkan pria itu masih melingkarkan tangannya di pinggang Rere dan sesekali tersenyum melihat wajah Rere yang berubah menjadi serius tanpa sepengetahuan Rere.

Pergerakan tangan Rere terhenti tatakala pelukan Jeffran semakin terasa posesif di pinggangnya. Rere mendunduk, matanya tepat bepapasan dengan mata Jeffran yang memandangnya dalam. Seakan terbawa suasana untuk kedua kalinya, Jeffran merapatkan pelukannya dan mencoba mendekatkan wajahnya dengan wajah Rere. Perlahan kedua mata Rere tertutup pelan, begitupun mata Jeffran. Hembusan nafas hangat Jeffran menerpa kulit wajahnya saat hampir saja bibir mereka bertemu sebelum lebih dulu bunyi nada dering telepon dari handphone Jeffran terdengar, menghentikan aktifitas mereka.

Rere mendorong badan Jeffran dengan cepat, lalu berdiri dan mengintip siapa gerangan yang benerani merusak momen penting ini.

“Siapa?” tanya Jeffran mengambil handphone-nya di atas nakas.

“Kia.” jawab Rere cuek. Tiba-tiba saja dia teringat isi chat Jeffran dengan Kia. “Jangan lupa jemur handuknya.” Rere melemparkan handuk kecil itu ke arah Jeffran lalu meninggalkannya sendirian di dalam kamar.

Okay, mungkin Rere cemburu.

Suara derap kaki Rere terdengar kian mendekat. Jeffran yang mendengar itu menghembuskan napasnya kesal. Pasalnya, sejak tadi Rere mengakatakan segera turun namun nyatanya memakan waktu yang lama.

“Kamu ganti baju atau nyalon, lama banget!” sindir Jeffran setelah Rere berdehem.

Rere mendengus, sambil mengambil piring dan dua sendok yang kemudian ia letakkan di hadapan Jeffran. “Bawel ah! Kan tadi aku bilang kalo mau ganti baju dulu.” sahut Rere sewot.

Kursi berdecit saat Rere memposisikan duduknya di samping Jeffran. Wangi semerbak parfume Rere tercium sampai ke indera penciuman Jeffran yang cukup tajam.

“Gak jadi pesen salad?” tanya Rere begitu Jeffran membongkar isi plastik yang hanya berisikan satu porsi nasi yang ia pesan tadi, tanpa adanya salad sayur.

“Saya ganti pakai salad buah.” jawab Jeffran.

Rere mengerutkan alisnya, “Aneh banget deh, katanya tadi mau pesen salad sayur kenapa jadi salad buah?”

“Banyak omong banget ya kamu. Makan aja.”

Lagi-lagi Rere hanya mendengus menanggapi perkataan Jeffran. “Mana salad buahnya?”

“Di kulkas, Re. Astaga, emang kamu mau makan nasi campur salad buah?” Jeffran mulai yang terlihat kesal dengan tingkah Rere. Sedangkan Rere hanya terkekeh pelan.

Disela makannya, Rere merengek sesuatu kepadanya. “Btw om, lama banget aku gak pulang. Kangen mami sama papi deh.” rancaunya masih mengunyah suapan terakhirnya.

Jeffran yang sudah selesai makan terdiam sebentar sambil berdiri. “Mau pulang?”

“Emang boleh?” tanya Rere sambil mengerjapkan matanya antusias.

“Ya boleh, memangnya siapa yang ngelarang kamu?” Jeffran balik bertanya. Ia meletakkan satu gelas berisi air minum untuk Rere. “Tapi gak boleh tidur di rumah.”

“Ih, kok gitu?”

Pria itu menghembuskan nafasnya. Dengan sabar dia menjawab, “Rumah kamu di sini, Re. Boleh tidur di rumah mami, tapi harus sama saya. Saya suami kamu. Kalau kamu sendiri yang tidur di rumah, mereka pikir kita lagi ada masalah.”

Rere meneguk minumnya sebelum menanggapi. “Berarti kita satu kamar dong?”

Jeffran tersenyum jahil, “Ya iyalah?”

Jeffran baru pulang dari kantor sekitar pukul 5 sore. Ketika baru sampai dalam unit, suasana gelap dan cukup senyap. Namun samar-samar ia mendengar suara televisi yang masih menyala ketika dirinya menyalakan lampu.

Matanya tertuju pada Rere yang tertidur pulas sambil memegangi perutnya. Tak lupa remote tv yang tergeletak begitu saja di atas karpet bulu.

Setelah melihat keadaan Rere, Jeffran amblas ke dapur. Menyimpan es krim pesanan Rere dan beberapa makanan ringan juga makanan untuk makan malam.

Lalu setelah itu, Jeffran kembali lagi ke ruang televisi untuk membangunkan Rere.

“Re, bangun.” Jeffran menepuk pelan lengan Rere. “Udah sore nih, ayo bangun dulu.” ucapnya lagi.

Rere menggeliat pelan, perlahan membuka kedua matanya dan melihat Jeffran yang berjongkok di depannya dengan jarak yang sangat dekat.

“Perutnya masih sakit?” tanya Jeffran pelan. Sedangkan Rere hanya mengangguk. “Bisa jalan gak? Kalau gak bisa saya gendong.”

Rere langsung mendudukkan badannya. “Aku sakit perut, bukan lumpuh tau.”

Mendengar itu Jeffran tertawa pelan. “Yaudah, naik ke atas. Mandi.”

“Kamar mandi atas udah bisa?”

“Oh iya lupa, saya belum telfon tukang servisnya. Mandi di tempat saya aja.”

“Bilang aja sengaja biar aku mandi di tempat om lagi.” cibir Rere kemudian berdiri dari tempatnya.

Jeffran melotot, “Enak aja. Setelah ini saya telfon orangnya.”